Hits: 33
Marshella Febriyanti Hutabarat
Pijar, Medan. Tidak semua suara perlu terdengar keras untuk dapat menyentuh hati. Terkadang, justru bisikan kecil yang mampu meninggalkan kesan mendalam. Lewat potret keindahan alam Papua yang ditampilkan dalam setiap adegan, film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua memperlihatkan betapa kayanya alam di tanah timur Indonesia. Film ini hadir sebagai pengingat betapa pentingnya alam, termasuk hutan, bagi semua makhluk hidup.
Film yang disutradarai oleh Anggi Frisca ini mengisahkan tentang Maira, seorang gadis berusia 12 tahun yang tumbuh bersama alam Papua. Bagi Maira, hutan bukan sekadar tempat bermain, melainkan bagian dari kehidupan dan warisan leluhur yang harus dijaga. Di tempat yang sama, Tegar, anak laki-laki berusia 11 tahun penyandang disabilitas fisik, datang dari kota untuk belajar dari alam setelah mendengar berbagai cerita tentang Papua dari kakeknya dan rasa penasarannya terhadap burung cenderawasih.
Pertemuan mereka di tengah hutan Papua yang penuh ketenangan menghadirkan persahabatan sekaligus membuka cara pandang baru bagi keduanya. Namun, kedamaian itu terusik ketika seorang pengusaha ambisius berusaha menguasai hutan. Dari sinilah Maira dan Tegar bertekad melindungi hutan yang menjadi rumah bagi kehidupan.
Menariknya, kisah dalam Teman Tegar Maira: Whisper from Papua sebenarnya merupakan kelanjutan dari film sebelumnya, yaitu Tegar yang dirilis pada tahun 2022. Film ini melanjutkan perjalanan karakter Tegar dengan cerita yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan latar baru di tanah Papua dan pertemuannya dengan Maira.
Film ini telah melalui proses riset panjang sebelum memasuki tahap produksi, dengan total waktu pengerjaan sekitar 2,5 tahun. Lamanya proses tersebut dipengaruhi berbagai persiapan, mulai dari penentuan lokasi di pedalaman Papua yang sulit dijangkau hingga upaya memahami kehidupan masyarakat adat secara lebih mendalam.
Proses syuting yang berlangsung di pedalaman Papua, khususnya di wilayah Kaimana dan Kampung Lobo, menghadirkan berbagai tantangan, seperti keterbatasan sinyal dan kendala logistik. Meski demikian, kondisi tersebut justru semakin mempererat hubungan antara kru yang datang dari Jakarta dengan masyarakat setempat.
Melansir dari suara.com, sebanyak 70% dari kru film ini melibatkan warga lokal dalam proses produksinya. Anggi menceritakan bahwa proses syuting di lokasi ini sangat berbeda dengan produksi film di kota besar, karena berbagai fasilitas yang biasanya tersedia tidak dapat sepenuhnya ditemukan di sana.
“Bayangkan dengan kru 100 orang, mobilnya cuma tiga. Di sana memang tidak ada kendaraan. Beberapa kendaraan mati harus kita hidupkan dulu. Tim laundry juga kita bawa mesin cuci dari kota, tetapi kalau cucian numpuk, kita nyuci ramai-ramai di sungai. Divisi musik, divisi lain, semua turun tangan,” tutur Anggi.
Dari proses produksi yang panjang tersebut, lahir film berdurasi lebih dari 90 menit yang menampilkan keindahan alam Papua sekaligus mengangkat isu krisis iklim, deforestasi dan konflik perebutan lahan. Meski bertema serius, Teman Tegar Maira: Whisper from Papua tetap dikemas ringan melalui sudut pandang anak-anak, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan usia. Karena itu, Teman Tegar Maira: Whisper from Papua patut masuk daftar tontonan kamu!
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

