Hits: 67

Dicky Wahyudi

Pijar, Medan. Abigail Limuria, merupakan sosok wanita yang belakangan ini menjadi perbincangan di kalangan anak muda dengan ragam hal yang dilakukannya. Hal tersebut melalui aktivitas yang ia lakukan dalam berbagai proyek, seperti di media sosial, menulis, hingga menjadi pegiat isu-isu sosial-politik di Indonesia.

Sosok yang lahir pada 10 November 1994 ini, aktif dalam menciptakan inovasi dalam upaya melakukan edukasi terhadap generasi muda terkait isu sosial-politik yang ada di tanah air. Abigail menjadi rekan pemrakarsa (co-initiator) dalam pembentukan Bijak Memilih dan Bijak Memantau, yaitu sebuah platform yang dapat digunakan masyarakat Indonesia untuk mencari tahu isu yang sedang terjadi serta perkembangan isu-isu sosial-politik yang ada.

Tidak hanya itu, Abigail juga mendirikan media bernama WhatIsUpIndonesia (WIUI), sebuah media yang berfokus untuk memberitakan keadaan sosial-politik tanah air dengan menggunakan Bahasa Inggris. WIUI juga mengedukasi proses berpikir dan rentetan hal untuk anak muda agar lebih tertarik dengan isu sosial-politik dengan kemasan yang segar sesuai perkembangan zaman.

Berdasarkan kanal YouTube In Our Twenties, Abigail menjelaskan mengenai alasan pembentukan media WIUI.

“Aku dulu tidak terlalu peduli dan melek politik karena beberapa hal, [tetapi] aku sadar [kalau] ini penting banget. Aku sadar bahwa ada banyak orang muda Indonesia yang tumbuh besar secara internasional dan susah mengikuti berita berbahasa Indonesia. Akhirnya, aku bikin [WhatIsUpIndonesia] ini untuk anak muda yang nyaman mengonsumsi berita dengan berbahasa Inggris,” jelas Abigail.

Abigail juga aktif dalam membahas isu pengembangan diri di anak muda dengan membahas pikiran-pikirannya melalui kanal Youtube pribadi yang ia miliki, serta siniar-siniar yang menjadikan dirinya sebagai narasumber. Ia membahas tentang bagaimana kerangka kerja (framework) dalam berbagai lini kehidupan, baik pertemanan, percintaan, hingga pengambilan keputusan yang kerap kali dilandaskan oleh keadaan emosional, bukannya dengan cara berpikir yang rasional.

Abigail juga menjelaskan dalam permasalahan percintaan yang saat ini dihadapi anak muda. Biasanya anak muda menginginkan pasangan yang sempurna, tetapi dirinya percaya bahwa pasangan itu dibentuk bersama dan bukan ditemukan. Oleh karena itu, framework atau cara berpikir mengenai hal ini dapat menjadi pertimbangan generasi muuda.

“Milih pasangan masalahnya bukan yang paling terbaik atau misalnya yang paling kaya, paling cakep, dan lain sebagainya. Namun yang paling cocok sama kita, ketika gue bilang cari pasangan itu yang paling cocok dengan kita, kita tetap harus sadar bahwa manusia tidak ada yang sempurna,” terang Abigail.

Bersama rekannya, Cania Citta, Abigail baru-baru ini menerbitkan sebuah buku pengembangan diri, berjudul Makanya, Mikir! Panduan Berpikir untuk Hidup Lebih Bahagia. Buku tersebut berisikan kerangka berpikir, berserta contoh-contoh nyata di kehidupan sehari-hari, dengan secara personal yang sudah diterapkan oleh Abigail dan Cania dalam kehidupan mereka selama ini.

Buku ini sudah terbit di pasaran dan sudah beberapa kali dicetak ulang. Hal tersebut dikarenakan minat yang tinggi oleh para penggemar Abigail serta Cania dalam menyambut karya tulisan yang dapat menjadi referensi, dengan berfokus pada pengembangan diri untuk menjalani kehidupan sebagai seorang manusia.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment