Hits: 58

Anggun Natasya Sinambela / Kelly Kidman Salim

Pijar, Medan. Di dunia kerja yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang mulai sadar bahwa hidup bukan hanya mengenai pekerjaan yang tanpa henti. Dari kesadaran itu, muncul istilah yang kini populer di kalangan pekerja muda, yaitu Tenggo. Istilah ini cukup sederhana, tetapi mempunyai makna tersendiri. “Teng” menggambarkan bunyi jam atau bel yang menandakan waktu pulang, sedangkan “Go” berasal dari bahasa Inggris yang artinya pergi.

Kebiasaan langsung pulang tepat setelah selesai jam kerja mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya menggambarkan cara berpikir baru para pekerja masa kini. Kalau dahulu banyak orang yang bangga dapat waktu lembur sampai malam demi terlihat rajin, sekarang semakin banyak yang justru merasa bahwa waktu pribadi jauh lebih penting.

Mereka ingin tetap profesional di tempat kerja, tetapi juga tidak ingin kehilangan waktu untuk diri sendiri, teman-teman, atau keluarga. Tenggo akhirnya menjadi simbol keseimbangan antara tanggung jawab dan kebahagiaan pribadi, ketika seseorang bisa produktif tanpa harus mengorbankan kesehatannya.

Sebagian orang masih menganggap pekerja yang menerapkan gaya hidup Tenggo sebagai sosok yang malas atau kurang berdedikasi. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Orang-orang yang pulang tepat waktu biasanya punya manajemen waktu yang baik dan tahu cara mengatur alur kerja mereka. Mereka akan menyelesaikan tugas sesuai target dan memanfaatkan jam kerja secara efisien. Dengan begitu, saat waktu pulang tiba, mereka bisa memberhentikan pekerjaan dengan tenang tanpa rasa bersalah.

Fenomena Tenggo juga muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja lama yang menilai loyalitas dari seberapa lama seseorang berada di kantor. Dahulu, pulang paling malam saat bekerja dianggap bukti keseriusan terhadap pekerjaan, nyatanya hal itu belum tentu sebanding dengan hasilnya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Recky Nawano (2024), keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work life balance) terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja dan kepuasan karyawan. Artinya, pekerja yang memiliki waktu istirahat cukup, justru lebih produktif dan memiliki performa kerja yang lebih baik.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap arti kesuksesan. Jika dahulu ukuran sukses adalah seberapa sibuk seseorang, kini banyak yang lebih memilih gaya hidup yang seimbang. Mereka ingin bisa bekerja dengan baik tanpa kehilangan waktu untuk menikmati hidup. Setelah seharian berada di tempat kerja, waktu pulang adalah hak pribadi yang harus digunakan untuk mengisi ulang energi, serta penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Menjalani gaya hidup Tenggo memang butuh disiplin. Tidak cukup hanya dengan niat pulang cepat, tetapi juga perlu kemampuan untuk mengatur waktu dan fokus selama jam kerja.

Orang yang terbiasa melakukan gaya hidup Tenggo biasanya sudah tahu apa yang harus dikerjakan, memprioritaskan tugas-tugas utama, dan menghindari hal yang mengganggu produktivitas, seperti sering membuka media sosial, atau berbicara di luar urusan kerja. Dengan begitu, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu tanpa terburu-buru.

Lebih dari sekadar kebiasaan, Tenggo mencerminkan perubahan gaya hidup yang lebih realistis. Pekerja masa kini tidak hanya mengejar uang dan jabatan, tetapi juga kualitas hidup yang lebih baik. Mereka tahu bahwa energi dan kesehatan mental tidak dapat diganti dengan gaji berapapun. Dengan menerapkan Tenggo, mereka bisa belajar untuk menempatkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dengan tentunya kedua hal ini sama pentingnya dan harus saling berjalan secara berdampingan.

Di tengah tekanan pekerjaan yang semakin besar, Tenggo bisa menjadi pengingat bahwa istirahat bukan sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan seseorang. Tubuh dan pikiran yang segar justru mampu membuat seseorang lebih siap menghadapi hari esok dengan semangat baru.

Jadi, jika menemui seseorang yang langsung pergi pulang begitu jam kerja selesai, jangan langsung dianggap sebagai pemalas. Seseorang tersebut sebenarnya bukan kurang berdedikasi dalam pekerjaannya, mungkin saja dia lebih tahu cara menjaga keseimbangan hidupnya di tengah gempuran kesibukan yang ada dalam bekerja.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus

Leave a comment