Hits: 37
Annisa Al Mahgfira / Nabila
Pijar, Medan. Apa artinya menjadi “manusia”? Apakah ketika kita sudah memenuhi syarat, atau jangan-jangan kita hanya sedang memainkan peran, berpura-pura mengerti aturan hidup yang tak pernah benar-benar kita pahami?
Pertanyaan-pertanyaan getir inilah yang menghantui setiap halaman Gagal Menjadi Manusia (Ningen Shikkaku), mahakarya otobiografis Osamu Dazai yang ditulis tak lama sebelum ia mengakhiri hidupnya. Buku ini bukan sekadar novel, melainkan semacam pengakuan paling jujur dari seorang yang merasa dirinya “gagal” dalam ujian menjadi manusia.
Kita diperkenalkan pada Oba Yozo, seorang lelaki yang sejak kecil diliputi ketakutan dan kebingungan yang mendalam terhadap manusia dan mekanisme kehidupan. Baginya, interaksi sosial adalah sebuah sandiwara yang melelahkan. Untuk bertahan dan diterima, ia memilih jalan menjadi “badut”. Senyumnya adalah tameng, leluconnya adalah pelindung, semua itu demi menyembunyikan “diri asli” yang ia rasa tidak akan pernah bisa dimengerti oleh siapa pun.
“Aku berpikir, selama bisa membuat mereka tertawa, bagaimana pun caranya tidak masalah, aku bakal baik-baik saja.” – halaman 13.
Kutipan ini mewakili seluruh strategi hidup Yozo. Ia menjadi pelawak ulung di sekolah, di keluarga, dan di pergaulan. Namun, di balik setiap tawa yang berhasil ia picu, tersimpan kehampaan dan teror bahwa suatu saat topengnya akan terbongkar.
Seiring beranjak dewasa, topeng badut yang ia bangun mulai retak. Kehidupannya di Tokyo, jauh dari keluarga, membuatnya semakin kehilangan pijakan. Ia menemukan pelarian sementara dalam alkohol dan wanita. Yozo seperti orang yang tersesat di lautan manusia. Ia mengamati bagaimana orang-orang dengan mudahnya menjalani hidup, seolah mereka memegang sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan.
Yozo mempertanyakan segalanya, mengapa manusia harus makan? Mengapa harus bekerja? Bagaimana mereka bisa begitu yakin dengan normalitas yang mereka ciptakan?
“Aku percaya bahwa alasan mengapa tidak membeberkan ke siapa pun tentang kejahatan menjijikkan yang dilakukan para pelayan kepadaku bukan lantaran ketidakpercayaan terhadap manusia… melainkan karena manusia di sekitarku telah dengan ketat menjauhkanku dari dunia kepercayaan atau kecurigaan.” – halaman 30.
Dazai menulis dengan gaya semi-otobiografi yang jujur sampai kadang menyakitkan. Ia membedah jiwa Yozo (yang merupakan cermin dirinya sendiri) dengan pisau yang tajam dan tanpa ampun. Narasinya terbagi dalam tiga buku catatan yang merekam penurunan mental Yozo secara bertahap, dari masa kanak-kanak yang polos dan penuh tanya, hingga kedewasaan yang suram dan penuh keputusasaan.
Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya membuat kita, pembaca, ikut merasakan kegelisahan eksistensial Yozo. Kita tidak hanya menyaksikan kejatuhannya, tetapi juga memahami, bahkan dalam hati kecil, mengapa ia merasa gagal menjadi manusia adalah satu-satunya label yang pantas untuknya.
Meski sering dikategorikan sebagai kisah suram tentang kesehatan mental, Gagal Menjadi Manusia sebenarnya adalah sebuah protes. Protes terhadap tuntutan masyarakat yang hipokrit, terhadap kesepian di tengah keramaian, dan terhadap pencarian makna di dunia yang terasa absurd.
Novel ini adalah cermin bagi kita semua yang pernah merasa “tidak cukup”, pernah memakai topeng, atau bertanya-tanya “Apa yang salah dengan diriku?”. Dazai, melalui Yozo, memberanikan diri untuk mengatakan dengan lantang apa yang mungkin kita sembunyikan, bahwa menjadi manusia itu sulit, dan tidak semua orang berhasil.
Membaca Gagal Menjadi Manusia seperti menyelami samudra kesedihan yang paling jernih. Air matanya terasa asin, dinginnya menusuk tulang, tetapi di dalamnya kita melihat refleksi diri yang paling jujur. Buku ini bukan untuk dicari jalan keluarnya, melainkan untuk dirasakan, untuk membuat kita berempati pada setiap jiwa yang terdampar di pinggiran kemanusiaan.
Novel ini mengajarkan kita bahwa mungkin, menjadi manusia bukanlah tentang seberapa sempurna kita memainkan peran, melainkan tentang seberapa berani kita mengakui bahwa kita semua ada dengan segala kekurangan dan kebingungan kita, tetapi berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

