Hits: 58

Chairunnisa Asriani Lubis 

Pijar, Medan. Bertemu pria tampan, bersikap manis, mapan secara finansial, kemudian berjanji untuk membangun hubungan yang lebih serius. Sungguh sosok idaman banyak perempuan. Bahkan terkadang, tak peduli jika menemukan sosok ini lewat aplikasi kencan online. Gambaran tersebut bisa ditemukan dalam film The Tinder Swindler. 

The Tinder Swindler merupakan film dokumenter yang rilis pada 2 Februari 2022 lalu di Netflix. Film ini menceritakan tentang beberapa wanita yang alih-alih mendapat kekasih, justru menjadi korban penipuan seorang Simon Leviev yang mereka kenal lewat aplikasi kencan online bernama Tinder. 

Cerita dalam film dimulai dari Cecilie Fjellhoy, perempuan asal Norwegia salah satu korban Simon. Simon Leviev yang digambarkan sebagai pria miliarder dengan penampilan yang modis dan mewah, membuat Cecilie tertarik dengannya. Ditambah lagi Simon mengaku sebagai Direktur Utama LLD Diamonds yang merupakan perusahaan berlian yang cukup besar di Israel. 

Setelah pertemuan singkat yang disertai dengan perlakuan sangat manis dari Simon, Cecilie hanyut dalam rayuannya hingga hubungan asmara terjalin di antara mereka. 

Seiring berjalannya waktu, Simon yang sering pergi ke negara lain dengan dalih pekerjaan mulai merekayasa cerita bahwa ia diserang musuh. Dari sini aksi penipuan oleh Simon pun mulai dijalankan. Ia memblokir kartu kredit agar musuh tidak bisa melacaknya dan membujuk Cecilie memberikan pinjaman dana kepada Simon. 

Film yang disutradarai oleh Felicity Morris ini memang sangat menarik. Dengan durasi 1 jam 54 menit, film ini mampu membuat penonton merasa ikut serta dalam alur cerita. 

Cara sang sutradara menggambarkan persoalan dalam film juga patut diacungi jempol. Pergantian cerita antara kisah Cecilie dengan Pernila Sjoholm dan Ayleen yang merupakan dua korban lain penipuan Simon disajikan dengan sinematografi yang cukup apik. Belum lagi emosi yang ditampilkan masing-masing korban sangat beragam. Mulai dari perasaan kasmaran, senang, sedih, hingga amarah yang timbul akibat perbuatan Simon si penipu Tinder. 

Sebagai film dokumenter, The Tinder Swindler diadaptasi dari kisah nyata. Simon Leviev yang mempunyai nama asli Shimon Yehuda Hayut rupanya seorang penipu handal. Korban penipuannya tak hanya ketiga wanita tersebut, melainkan banyak lagi dari berbagai negara. Ia juga nekat menggunakan nama belakang keluarga Lev Leviev yang merupakan pemilik perusahaan LLD Diamonds sebenarnya. Bahkan Lev mengonfirmasi tidak ada koneksi apapun dengan Simon. 

Dalam film ini, banyak pesan dan pelajaran yang bisa diambil. Film ini memberitahu bahwa modus penipuan bisa dilakukan lewat apa saja. Film ini juga mengajarkan untuk tidak mudah percaya serta lebih hati-hati dengan siapapun yang baru dikenal, terlebih mengenalnya dari aplikasi online.  

Tak ada yang salah dengan aplikasi kencan online. Tak ada yang salah mencari teman atau pasangan lewat aplikasi tersebut. Namun, sebagai pengguna media sosial yang baik, maka kita harus bijak dalam menggunakannya. 

(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra) 

Leave a comment