Hits: 41

Chairunnisa Asriani Lubis / Jonathan Alexander

Pijar, Medan. Pandemi Covid-19 ternyata tidak menghalangi KPU Universitas Sumatera Utara dalam menyelenggarakan acara Debat Kandidat Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa pada hari selasa, 4 November 2020. Debat kali ini mengangkat tema “Aktualisasi Peran Pema USU dalam Menjalankan Amanah Kepemimpinan di Tingkat Universitas pada Masa Pandemi Covid-19”.

Debat kandidat ini dilaksanakan secara offline yang bertempat di aula Mi Ayam Jamur Haji Mahmud dan ditayangkan secara live streaming melalui Youtube dan Instagram kpu.usu. Heru Yulian selaku Mc mengatakan bahwa debat kandidat yang dilaksanakan secara offline, tetap memperhatikan protokol kesehatan. Selain dilaksanakan offline, debat ini juga dilangsungkan secara online agar dapat dilihat oleh mahasiswa-mahasiswa yang tidak memungkinkan untuk hadir pada debat tersebut. Hal ini diadaptasi dari kampus-kampus lain yang melaksanakan pemira juga secara online.

Kegiatan debat yang dilakukan secara live ini ternyata sempat membuat para penonton kecewa, dikarenakan dalam pelaksanaannya terlambat 3 jam dari waktu yang telah ditentukan. “Kalau isi debat sih saya rasa tidak ada masalah. Kedua kandidat berdebat dengan baik. Hanya saja yang agak aku sayangkan itu masalah waktu,” ucap Nauza yang merupakan mahasiswi sastra Indonesia.

Keterlambatan itu memunculkan berbagai prasangka dan pertanyaan dari para penonton yang menunggu cukup lama kepada tim pelaksana. “Di flyer tertera kalau acara debatnya dimulai dari jam 5 sore. Eh ternyata acaranya ‘ngaret’. Yang saya herannya kenapa baru dimulai jam 8 malam dan berakhir semalam itu, sekitar jam 10 malam,” sambung Nauza lagi.

Acara dibuka dengan pemberian kata sambutan oleh Dr. Budi Utomo, S.P., M.P. selaku perwakilan Biro Kemahasiswaan dan Kealumnian serta Wahyu Hidayat selaku Ketua Umum KPU Universitas Sumatera Utara. Sesi debat pemira ini dibawakan oleh Agnes A.S Siregar selaku moderator dan diawali dengan penyampaian visi dan misi dari setiap paslon. Durasi yang diberikan untuk penyampaiannya berkisar 5 menit untuk setiap paslon.

Paslon nomor urut 1 dengan pasangan Muhammad Rizki Fadhillah dan Anas Alfarizi menyampaikan visi mereka yaitu USU menatap Indonesia dan misinya yaitu peningkatan iptek dan kreafitas mahasiswa dalam menghadapi era 4.0, optimalisasi minat dan bakat mahasiswa USU, inisiator pergerakan Sumut dan Indonesia, revitalisasi tata laksana keorganisasian mahasiswa, serta membangun sinergitas antara mahasiswa dengan alumni dalam mengahadapi dunia kerja.

Sementara paslon nomor urut 2 dengan pasangan Aldho Syahputra Sinaga dan M. Prayoga Rengkuh Prantara menyampaikan bahwa visi mereka adalah eskalasi karya, bergerak bersama untuk USU dan Indonesia dengan misinya yaitu eskalasi sinergi dan kolaborasi internal eksternal, eskalasi minat bakat mahasiswa yang kreatif inovatif, eskalasi peran dan partisipasi civitas akademika dengan semangat kekeluargaan, eskalasi advokasi yang solutif, eskalasi pergerakan mahasiswa yang proaktif dan dinamis dengan semangat intelektual, serta eskalasi pengabdian masyarakat yang berdampak dan berkelanjutan.

Sesi debat berikutnya dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Hamdan, S.Pt., M.Si selaku panelis. Pertanyaan yang diberikan oleh panelis pun sekitar tentang peran pema dalam menerapkan konsep kampus merdeka, lalu mengenai cara paslon memerankan fungsi sebagai jembatan dan corong antara civitas akademi dengan mahasiswa.

Masing-masing paslon menjawab pertanyaan dengan sangat antusias. Jawaban-jawabannya juga dikaitkan dengan program kerja unggulan masing-masing paslon. Paslon 2 dengan salah satu program kerjanya Ruang ASA (Alumni dan Mahasiswa) dan paslon 1 dengan program kerjanya pema advokasi. Masing-masing program kerja ini sama-sama disampaikan paslon dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada pada mahasiswa-mahasiswa USU.

Debat semakin memanas ketika panelis memberikan pertanyaan mengenai kesetaraan antara kegiatan akademik masing-masing paslon dengan perannya nanti sebagai pemerintahan mahasiswa.

“Sebagai pemimpin kita harus mengorbankan apa yang harus kita korbankan. Saya banyak mengorbankan materil, saya mengorbankan diri saya lama tamat. Saya merasa sedih melihat kawan-kawan sudah tamat. Tapi saya tidak mempermasalahkan itu. Karena cepat tamat ataupun lama tamat itu hanya perbedaan prinsip. Saya dan bang Anas merelakan semuanya, karena tidak ingin pondasi kita rusak dengan kebijakan-kebijakan yang tidak terakomodasi,” tegas Rizki sebagai paslon nomor urut 1.

Setelah mendengar jawaban dari paslon nomor urut 1, dilanjutkan dengan jawaban dari paslon nomor urut 2. “Pondasi kepemimpinan paling utama adalah keteladanan. Bagaimana akhirnya kita, bukan hanya bisa memimpin dan memberikan arahan, tetapi yang paling penting bagaimana kita bisa menjadi contoh. Tapi jika kita berbicara frame yang terbentuk tentang aktivis lama tamatnya, itu hanyalah sebuah pilihan masing-masing orang bagimana akhir perjuangannya. Keberdampakan kita tidak dinilai dari seberapa lama kita tamat, tetapi dinilai dari pengaruh kita ditengah-tengah mahasiswa dan masyarakat.” jawab Aldho selaku paslon 2

Debat kandidat presiden dan wakil presiden mahasiswa terus berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga datang dari penonton. Semua jawaban-jawaban dari paslon sangat mengarah pada USU yang lebih baik lagi. “Alasan aku nonton debat kandidat ini, ya buat mantau sih. Agar aku tahu nanti suara yang bakal aku berikan untuk kandidat yang mana,” tambah Nauza kembali

Dengan diadakannya debat kandidat presiden mahasiswa dan wakil presiden mahasiswa ini diharapkan mampu memberikan gambaran untuk mahasiswa USU dalam memberikan suaranya saat Pemira tanggal 6 November 2020 mendatang.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment