Hits: 4

Zoraya Balqis

Seperti biasa, lembaran buku sketsaku yang hampa tertiup angin pagi ini. Tidak ada ide baru yang singgah di benakku. Tugas yang menumpuk, malam yang tak kunjung tenang, dan ekspektasi yang terus menghantuiku seolah menjadi tembok tinggi yang menghalangi setiap imajinasi untuk tumbuh.

Hai. Aku Tara.

Seorang insan yang terus mempertanyakan potensi tersembunyi di dalam dirinya. Aku selalu bergaul dengan pensil warna mini yang kugendong ke mana pun aku melangkah. Sudah menjadi pemandangan umum bagi teman-teman sekelasku menyaksikan goresan yang tak kunjung henti berdansa di atas lembaran kertas. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tak pernah mereka ketahui.

Aku kehilangan warna.

Bukan warna yang tersimpan di dalam kotak pensil warnaku, bukan pula warna yang terpantul dari langit ketika matahari mulai tenggelam. Melainkan warna yang dahulu membuatku bersemangat untuk melukis, warna yang membuat setiap goresan terasa hidup, dan warna yang membuatku percaya bahwa aku mampu menciptakan sesuatu yang indah.

Entah sejak kapan semuanya berubah. Barangkali sejak aku mulai membandingkan hasil karyaku dengan lukisan orang lain. Atau mungkin sejak aku terlalu sibuk memikirkan tentang apakah orang-orang akan menyukai apa yang kubuat, sampai-sampai aku lupa bertanya kepada diriku sendiri: “apakah aku masih menyukainya?”

Sejak saat itu, kanvasku hanya dipenuhi warna-warna yang kupilih karena terlihat benar, bukan sebuah ide murni yang penuh akan kreativitas.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan sosok lelaki yang membuatku tenang.

Namanya Sora.

Aku pertama kali melihatnya di bangku taman perpustakaan kampus, tepat di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning. Ia duduk sendirian di bangku kayu, mengenakan headphone dengan sebuah buku novel terbuka di pangkuannya. Ia bernyanyi dengan pelan, seolah sedang tampil di konser imajinasinya.

Kali ini, momen itu terjadi lagi. Setidaknya ini sudah kedua kalinya aku bertemu dengannya. Aku duduk di sampingnya dan mulai membuka lembaran buku sketsaku. Goresan kali ini terasa melankolis. Hari ini, suasana hatiku sedang bergejolak hebat dengan pikiranku yang berlebihan.

“Apa yang sedang kamu gambar?”

Suara itu membuatku tersentak. Lelaki tadi kini mengabaikan headphone-nya, menatap sketsaku yang masih setengah jadi.

“Ah, bukan apa-apa,” jawabku gugup. Buru-buru menutup buku sketsa dengan rona wajah yang memerah.

Ia tertawa kecil dan bertanya, “kalau bukan apa-apa, kenapa kamu menggambarnya dengan serius sekali?”

Aku menatapnya sekilas, lalu bertanya balik, “kamu sendiri sedang mendengarkan apa?”

“Melodi yang belum selesai,” jawabnya.

“Kenapa belum selesai?” tanyaku penasaran.

Ia terdiam sejenak, lalu menatap langit senja di atas kami.

“Karena aku belum menemukan sosok yang tepat untuk mewakili lagu-lagu yang kudengar.”

Aku mengerutkan kening.

 “Memangnya musik harus selalu punya akhir yang sempurna?”

“Tidak juga,” Ia tersenyum.

“Tapi aku ingin setiap nada yang kumainkan punya alasan untuk berada di sana,” lanjutnya.

Aku tidak tahu mengapa kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalaku bahkan setelah kami berpisah.

Mungkin karena selama ini aku selalu berusaha membuat lukisanku sempurna, sampai-sampai aku lupa bahwa setiap warna seharusnya memiliki alasan untuk berada di atas kanvas.

***

Sejak pertemuan itu, taman perpustakaan kampus menjadi tempat yang sering kukunjungi.

Awalnya, aku hanya ingin mencari inspirasi untuk lukisanku. Namun, lama-kelamaan, aku mulai terbiasa duduk di bangku yang sama dengan Sora. Mendengarkan melodi-melodinya yang kadang terdengar ceria, kadang sendu, dan sesekali berhenti di tengah permainan karena ia merasa itu kurang sesuai dengan suasana hatinya .

Sebagai gantinya, aku memperlihatkan sketsa-sketsa yang kubuat.

Sora sering bertanya mengapa aku memilih warna tertentu untuk menggambarkan langit, mengapa bayangan pepohonan kubuat lebih gelap daripada aslinya, atau mengapa bunga-bunga dalam lukisanku selalu tampak seolah sedang menunduk.

Aku tidak pernah benar-benar memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Namun, setiap kali ia bertanya, aku justru menemukan hal-hal baru tentang diriku sendiri.

“Kenapa kamu suka melukis?” tanyanya suatu sore.

Aku terdiam.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi aku membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya.

“Dulu, aku suka melukis karena rasanya seperti berkomunikasi dengan diriku sendiri,” ujarku. “Ibaratnya emosi yang bisa kubentuk sesuka hati. Kalau sedang sedih, aku bisa menggambar hujan. Kalau sedang bahagia, aku bisa memenuhi langit dengan warna-warna cerah.”

“Lalu sekarang?”

Aku menatap buku sketsaku.

“Entahlah. Sekarang aku justru takut salah memilih warna.”

Sora tidak langsung menjawab. Ia meletakkan earphone-nya di samping bangku.

“Kalau aku salah memainkan lagu di daftar putarku, aku biasanya mencoba memainkannya sekali lagi.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kalau masih salah?”

“Aku mencoba lagi. Atau mungkin aku berpindah ke daftar putar lainnya,” Ia mengangkat bahu. “Kadang-kadang, nada yang awalnya kupikir salah justru membuat lagunya terdengar lebih menarik,” lanjutnya.

Aku tertawa kecil.

“Kamu membuat semuanya terdengar mudah.”

“Padahal tidak,” jawabnya.

“Aku juga sering merasa selera musikku tidak cukup bagus. Tapi kalau terus memikirkan bagaimana seharusnya sebuah lagu terdengar, kapan aku bisa menikmati musik yang kumainkan?” tambahnya.

Aku terdiam.

Untuk beberapa saat, hanya suara angin dan gesekan dedaunan yang menemani kami.

Lalu, tanpa sadar, aku membuka buku sketsaku kembali.

Kali ini, aku mengambil warna biru dan jingga.

Bukan karena warna itu cocok dengan teori warna yang pernah kupelajari. Bukan pula karena aku ingin membuat langitku terlihat dramatis seperti lukisan-lukisan yang sering kulihat di internet.

Aku memilihnya karena sore itu, biru dan jingga adalah warna yang mengingatkanku dengan kehadirannya.

***

Hari-hari berlalu, membawa perubahan kecil yang bahkan nyaris tidak kusadari.

Aku mulai melukis kembali dengan perasaan yang lebih ringan. Warna-warna yang dahulu terasa asing perlahan menemukan tempatnya di atas kanvas. Aku tidak lagi memaksakan setiap garis agar terlihat sempurna. Terkadang, aku membiarkan cat air mengalir melewati batas sketsa, menciptakan bentuk-bentuk tak terduga yang justru membuat lukisanku terasa lebih hidup.

Sementara itu, Sora terus melantunkan melodinya.

Kami sering menghabiskan sore bersama di taman perpustakaan kampus. Ia memainkan daftar putar lagu di gawai miliknya sambil membaca buku novel, sedangkan aku melukis di sampingnya.

Tanpa kami sadari, kebiasaan itu menjadi bagian dari hari-hari yang paling kutunggu.

Ada ketenangan dalam setiap nada yang diputarnya. Ada kehangatan dalam setiap percakapan sederhana yang kami lakukan. Ada sesuatu yang perlahan tumbuh dalam diriku, sesuatu yang selama ini kukira telah hilang selamanya.

Ketika aku melukis kembali dengan cerianya, aku menadahkan kepalaku ke atas, menatap bintang-bintang yang perlahan hinggap di langit senja. Tanpa perlu menunggu lama, aku langsung menggoreskan pemandangan itu di lembaran sketsaku. Tanpa kusadari, Sora memandangku dengan tampang yang berbeda dari sebelumnya. Senyum kecilnya melengkapi pemandangan yang sedang kulukis.

“Tara,” panggilnya.

“Iya, Sora? Ada apa?” tanyaku.

“Aku baru menyadarinya sekarang. Langit-langit senja yang selalu kamu lukis memang adalah inspirasimu untuk terus menciptakan goresan di atas lembaran. Tetapi, kau, adalah definisi dari kata ‘inspirasi’ itu sendiri. Kamu adalah inspirasiku,” ungkapnya dengan wajah bak kepiting rebus.

Aku terdiam, menyembunyikan senyum yang perlahan merekah di bibirku. Senja sore itu terasa lebih hangat, seolah langit turut menyimpan rahasia kecil di antara kami.

“Kalau begitu, jangan berhenti menciptakan melodimu, Sora. Aku ingin terus mendengarnya,” ucapku lembut.

Ia tersenyum.

“Asalkan kamu juga tidak berhenti melukis, Tara.”

Aku kembali menatap buku sketsaku, membiarkan warna biru dan jingga berpadu di antara goresan-goresan kecil yang menyerupai bintang. Kini, aku mengerti bahwa keindahan tak selalu lahir dari kesempurnaan. Terkadang, ia tumbuh dari pertemuan sederhana yang mengajarkan kita melihat dunia dengan cara berbeda.

Sora hadir bukan untuk mewarnai seluruh hidupku, melainkan membantuku menemukan warna-warna yang sempat kulupakan. Dan tanpa kusadari, aku pun telah menjadi bagian dari melodi yang selama ini ia cari.

Di bawah langit senja yang perlahan berubah menjadi malam, aku tersenyum, menyadari bahwa setiap orang memiliki cahayanya sendiri.

Sebab pada akhirnya, bintang tak membutuhkan langit yang sempurna untuk bersinar, sebagaimana aku tak membutuhkan kesempurnaan untuk kembali menemukan warna.

Leave a comment