Hits: 2

Evelin Margareta Purba

Pijar, Medan. Setiap tanggal 3 November diperingati sebagai Hari Kerohanian Nasional. Peringatan ini menjadi salah satu pengingat tentang pentingnya menghormati keberagaman agama dan keyakinan yang ada di Indonesia. Di tengah perbedaan ajaran kepercayaan dan cara beribadah, sikap saling menghargai dan menghormati menjadi hal penting dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman, salah satunya dalam hal agama. Terdapat enam agama yang resmi di akui di Indonesia, yaitu agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Kebebasan beragama di Indonesia juga telah dijamin, menurut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat 2 yang menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama serta kepercayaannya. Hal ini juga sejalan dengan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Peringatan Hari Kerohanian Nasional di sejumlah daerah terkadang diisi dengan berbagai kegiatan yang mengangkat nilai spiritualitas dan toleransi. Dalam memperingati Hari Kerohanian Nasional pada 3 November 2026, terdapat salah satu kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

Dilansir dari askara.co, rangkaian kegiatan tersebut akan diisi dengan diskusi, refleksi, dan meditasi bersama. Acara juga akan dilanjutkan dengan syukuran dan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur serta simbol kebersamaan.

Sekretaris PWI Jaya, Arman Suparman, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan organisasi yang tidak hanya kuat dalam bidang profesi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

“Wartawan setiap hari berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat. [Oleh] karena itu, penting untuk sesekali berhenti, melakukan refleksi, dan memperkuat nilai-nilai rohani. Melalui kegiatan ini, kami ingin meneguhkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan,” ucap Arman.

Dikutip dari pontianakpost.jawapos.com, Ustad Miftah, seorang tokoh masyarakat dan juga pendakwah di Pontianak, Kalimantan Barat, menilai bahwa hal terpenting dari Hari Kerohanian Nasional bukanlah perayaannya, melainkan bagaimana nilai-nilai kerukunan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Memang, kita tidak pernah merayakan Hari Kerohanian. Semuanya juga baru tahu ada dalam kalender nasional soal hari tersebut. Bukan terpenting soal merayakannya, tetapi bagaimana mempraktikkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari, yakni terus menjaga kerukunan umat beragama [dan] sikap saling menghormati. Jadilah Aku Indonesia. Apapun agama dan sukunya,” kata Ustad Miftah.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

 

Leave a comment