Hits: 4

Ghina Raudhatul Jannah

Pakaian bekas tidak harus berakhir menjadi limbah. Dengan kreativitas, pakaian yang sudah tidak terpakai dapat diolah menjadi barang baru yang bermanfaat. Gagasan ini diangkat REKA Project melalui kampanye yang mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan pakaian bekas. Setelah menggelar pre-event di kawasan Car Free Day (CFD) pada Minggu (4/10/2026), REKA Project melanjutkan rangkaian kegiatannya melalui edukasi dan lokakarya (workshop) di Nutrihub Medan pada Jumat (9/10/2026).

REKA Project merupakan kampanye yang mengangkat isu fast fashion dan limbah tekstil melalui edukasi serta praktik pemanfaatan kembali pakaian bekas. Jika pre-event berfokus pada pengenalan isu kepada masyarakat, kegiatan utama ini mengajak peserta mempelajari cara mengolah pakaian bekas menjadi barang yang memiliki fungsi baru.

Project Manager REKA Project, Dwi Garini Oktavianti, menjelaskan bahwa isu tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan Generasi Z yang tidak terlepas dari perkembangan tren berpakaian.

“Tim REKA sendiri melihat isu mengenai pencemaran lingkungan akibat limbah tekstil dan dampak buruk industri fast fashion cukup mengkhawatirkan, terutama di era sekarang. Isu ini cukup relate dengan lifestyle Gen Z, jadi menarik untuk dikampanyekan,” ujarnya.

Kegiatan REKA Project
Peserta sedang memperhatikan cara menjahit yang dicontohkan oleh fasilitator
(Sumber Foto: Dokumentasi Panitia Reka Project)

 

Kegiatan utama REKA Project menghadirkan Rumah Kreatif Rani, pegiat lingkungan asal Binjai yang berkolaborasi sebagai mentor dalam lokakarya menjahit. Peserta didampingi untuk mempraktikkan cara memanfaatkan pakaian bekas agar dapat digunakan kembali.

Perwakilan Rumah Kreatif Rani, Khairani Lubis, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

“Acara ini sangat bermanfaat. Kita membantu menyelamatkan bumi dengan hal kecil. Melalui acara ini, semoga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, apalagi di tengah isu fast fashion sekarang,” ungkapnya.

Salah satu peserta lokakarya, Mutiara Chairunnisa, mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena ingin mencoba menjahit dengan menggunakan pakaian bekas sebagai bahan utama.

“Aku tertarik ikut kegiatan REKA karena workshop-nya menjahit, terus yang dijahit juga pakaian bekas, jadi ada value-nya,” tuturnya.

Setelah mengikuti kegiatan, Mutiara juga berencana mengolah pakaian bekas yang dimilikinya di rumah menjadi barang baru.

“Aku punya banyak pakaian bekas di rumah. Setelah acara ini, kayaknya aku bakal nyoba untuk recreate atau mengolah pakaian bekas jadi barang-barang baru, kayak yang kita lakukan sekarang,” tambahnya.

Mengolah pakaian bekas menjadi barang baru merupakan salah satu cara untuk memperpanjang masa guna pakaian. Melalui rangkaian kegiatan ini, REKA Project berharap masyarakat tidak hanya mengenal persoalan fast fashion dan limbah tekstil, tetapi juga mulai menerapkan kebiasaan memanfaatkan pakaian yang sudah tidak terpakai.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment