Hits: 11

Nazwa Amanda Putri/Indra Rana Zafira Silaban

Pijar, Medan. Di balik gaya arsitektur klasik daerah Kesawan Kota Medan, terdapat satu bangunan bersejarah yang dulu sempat ditinggalkan, tetapi kini kehadirannya sukses menarik perhatian dengan wajah baru yang lebih modern, Seng Hap 1881. Terletak di Jl. Jend. Ahmad Yani No.1, Kesawan, Kec. Medan Barat, Kota Medan, Sumatera Utara, kini bangunan ini hadir sebagai surganya kuliner dan oleh-oleh khas Medan.

Seng Hap 1881 menghadirkan pengalaman yang mempertemukan cerita masa lalu dengan aktivitas masyarakat masa kini. Melansir dari cagarbudayamedan.com, bangunan yang didirikan pada tahun 1881 oleh Tan Tang Ho ini dulunya merupakan pusat perbelanjaan Cina pertama di Kota Medan yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Selain itu, Seng Hap 1881 juga dikenal sebagai pusat perbelanjaan mewah yang sangat terkenal di wilayah pantai timur Sumatra.

Dilansi dari cagarbudayamedan.com, dulunya bangunan dari kayu yang sempat terbakar kemudian dibangun kembali secara permanen pada tahun 1900 ini, menghadirkan berbagai barang mewah, mulai dari makanan tradisional Belanda seperti Boorenkool, arak tradisional Belanda bernama Jenever, hingga sepeda bermerek Fongers. Walaupun berhasil menjadi salah satu pusat distribusi di kota, Seng Hap 1881 sempat mengalami kemunduran dan ditutup pada tahun 1970-an.

Aneka Makanan Ringan di SENG HAP 1881
Berbagai produk makanan ringan
(Fotografer: Nazwa Amanda Putri)

 

Namun, kini Seng Hap 1881 hadir kembali membawa hal baru dengan sentuhan modern, tetapi tetap mempertahankan gaya klasik khasnya. Jejak sejarah itu kini berdampingan dengan beragam produk lokal dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mulai dari beragam makanan dan kerajinan tradisional, hingga makanan dan minuman kekinian yang bisa menjadi oleh-oleh.

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini juga menjadi tempat untuk duduk menikmati suasana daerah Kesawan. Tersedia area outdoor di lantai satu dan ruangan indoor di lantai dua. Toilet dan musala juga turut disediakan untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung. Bahkan  Seng Hap 1881 juga menyediakan microwave untuk menghangatkan makanan agar semakin nikmat.

Memasuki lantai pertama, pengunjung langsung disambut dengan beragam oleh-oleh khas Medan, seperti Roti Kacang, Madu, Gula Merah, Dodol, Kopi, Keripik, dan lainnya yang tersusun rapi sebagai pilihan buah tangan. Selain itu, di sini juga tersedia berbagai makanan dingin, seperti Pancake Durian, Es Lilin, puding, cake, dan lainnya. Bahkan, terdapat olahan pelengkap makanan, seperti Sambal Teri Medan, Sambal Padang Minang, Bawang Goreng, serta Bumbu Rujak.

Menu makanan tradisional dan modern juga tersedia dengan beragam jenis serta harga yang terjangkau. Mulai dari kue tradisional, seperti Putu Ayu, Nona Manis, Kue Gabin dengan harga Rp6.000. Lalu, ada kue tradisional lainnya, Bika Ambon, Gorengan, Pempek, hingga aneka nasi dengan berbagai lauk-pauk yang salah satunya adalah Nasi Perang dengan harga sekitar Rp9.900–Rp11.900.

Selain mengenyangkan perut, Seng Hap 1881 juga bisa menghilangkan dahaga dengan hadirnya berbagai jenis minuman, mulai dari Teh, Jus, Susu, hingga minuman terkenal dari Sumatra Utara, yaitu Badak. Di sini juga tersedia cangkir berisi es batu seharga Rp4.000 yang bisa diisi dengan minuman kita beli.

Permainan Tradisional di SENG HAP 1881
Salah satu kerajinan berupa permainan tradisional
(Fotografer: Nazwa Amanda Putri)

 

Tidak hanya makanan, Seng Hap 1881 juga menjual kerajinan khas Sumatera Utara berbahan ulos yang diolah menjadi berbagai barang berupa dompet, kotak pensil, kipas, dan tas. Selain itu, juga tersedia gantungan kunci rajut dan juga beragam permainan tradisional, seperti ontong kecil, pluit tradisional, dan palu etek-etek yang dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp31.000. Tempat ini bahkan menyediakan berbagai buku dengan harga yang terjangkau.

Suasana Seng Hap 1881 tidak berhenti di lantai pertama saja. Dari lantai dua hingga lantai tiga, pengunjung dapat menemukan berbagai spot foto yang menampilkan sejarah Kota Medan, foto-foto lama, koran berbahasa Belanda, serta dokumentasi masa lalu. Sentuhan tradisional dan klasik juga semakin terasa dengan kehadiran para pekerja yang mengenakan pakaian tradisional Melayu dan diputarnya lagu-lagu lawas dengan alunan yang khas.

Bangunan ini tidak hanya menjadi tempat untuk mencari buah tangan dan kuliner, melainkan juga menjadi ruang yang memperkenalkan kembali potongan cerita Kota Medan melalui barang, makanan, dan suasana yang dapat dinikmati secara langsung.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment