Hits: 3

Jihan Ananda Purnama / Kurratul Aina

Pijar, Medan. International Summer Course Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) memadukan pembelajaran akademik dengan pengalaman langsung di tengah masyarakat. Tidak hanya beraktivitas di ruang kelas, peserta internasional diajak berwisata sekaligus belajar melalui kegiatan field trip, yaitu kunjungan ke sejumlah wilayah seperti Simalungun, Karo, dan Asahan. Kegiatan ini ditujukan agar peserta dapat mempelajari persoalan sosial sekaligus budaya lokal Sumatra Utara.

Randa Sinaga, salah seorang dosen FISIP USU yang terlibat dalam penyelenggaraan program, menjelaskan bahwa pada tahun ini terdapat tiga program dengan fokus berbeda. Program pertama mengangkat pasal kewirausahaan dalam kajian administrasi bisnis dan sosial, program kedua turut membahas kewirausahaan sosial namun dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), sedangkan program ketiga berfokus pada pemberdayaan masyarakat yang termarginalkan.

”Jadi, field trip ini mengunjungi yang memang sesuai dengan konteks dan tema summer course-nya,” ujar Randa.

Opening Ceremony International Summer Course FISIP USU
Opening Ceremony International Summer Course FISIP USU 2026: The 3rd Social Interpreneurship in Order To Achieve SDGs
(Forografer: Kurratul Aina)

 

Berdasarkan penjelasan Randa, field trip disesuaikan dengan tema setiap program agar peserta dapat memahami penerapan materi secara langsung. Misalnya, peserta program kewirausahaan sosial, mereka diajak langsung mengunjungi usaha kopi yang terletak di daerah Simalungun. Sementara itu, untuk program pemberdayaan masyarakat, peserta diajak untuk mengunjungi daerah Asahan khususnya Yayasan Sintesa yang telah bekerja sama serta akan mempelajari praktik pengembangan pertanian.

Nor Farah Zulaikha, mahasiswa Multi Media dari University Of Kuala Lumpur, Malaysia, mengaku mengikuti program ini untuk pertama kalinya.

”I haven’t try it yet, so this is my first time. Hal yang membuat saya tertarik adalah sebab saya ingin melihat bagaimana orang-orang di sini socialize and how is the culture. Saya juga ingin mengeksplor di sini dengan kawan-kawan,” jelas Farah.

Keikutsertaannya juga menjadi pengalaman pertama bagi Farah untuk bepergian ke luar negeri seorang diri.

Meski merupakan seorang introvert, Farah tetap berusaha bersosialisasi dengan peserta lainnya. Selain itu, Farah juga merupakan satu-satunya peserta perempuan pada program kali ini. Ketika ditanya tentang bagaimana ia akan menjelaskan program ini kepada teman-temannya di Malaysia, Farah dengan tegas dan percaya diri menjawab ”Rugi tak join.” Ia juga mengapresiasi keramahan orang-orang yang ditemuinya selama kegiatan berlangsung.

Antusiasme peserta juga terlihat dari beragam negara. Menurut Randa, peserta berasal dari kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara. Setiap program diikuti oleh kurang lebih 40 mahasiswa asing, dengan 10 hingga 16 hadir secara langsung dan sebagian lainnya mengikuti secara daring. Ke depannya, penyelenggara berharap dapat menarik lebih banyak peserta dari Eropa. Meskipun kepastian jadwal menjadi satu tantangan karena peserta membutuhkkan waktu persiapan untuk mengikuti program secara langsung.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment