Hits: 6

Yohana Gradela Evelin Silaban / Marshella Febriyanti Hutabarat

Pijar, Medan. Sudah seharusnya sekolah menjadi tempat untuk belajar, bertumbuh, dan merasa aman. Namun, bagaimana jika ruang belajar justru dipenuhi dengan perundungan, penyalahgunaan kekuasaan, tekanan orang tua, hingga konflik antara siswa dengan guru?

Melalui Teach You a Lesson, penonton dibawa ke dalam kisah dunia pendidikan Korea Selatan yang dikemas dengan aksi. Serial Netflix ini tidak hanya menyajikan konflik, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali apa sebenarnya makna dari “mendidik”.

Serial yang rilis pada tahun 2026 ini disutradarai oleh Hong Jong-chan dan dibintangi Kim Moo-yul, Lee Sung-min, Jin Ki-joo, serta Pyo Ji-hoon. Teach You a Lesson merupakan adaptasi dari Webtoon berjudul The Real Lesson, yang juga dikenal dengan judul Get Schooled. Ceritanya berpusat pada Educational Rights Protection Bureau (ERPB) atau Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP), sebuah lembaga fiktif yang dibentuk untuk menangani berbagai persoalan di sekolah. Lembaga ini dinaungi oleh pemerintah dan undang-undang resmi Korea Selatan.

BPHP dibentuk oleh dua tokoh utama, Na Hwa-jin, seorang mantan anggota pasukan khusus bersama Choi Gang-soek yang merupakan seorang menteri. Keduanya memiliki alasan personal di balik pembentukan lembaga tersebut. Putri sang menteri, yang juga merupakan kekasih Hwa-jin, adalah seorang guru yang meninggal setelah dibunuh oleh muridnya sendiri. Sebelumnya, ia berusaha membantu murid tersebut dan percaya bahwa pendekatan sebagai seorang guru dapat mendorongnya untuk berubah. Namun, upaya tersebut justru berakhir tragis.

Kejadian tersebut menjadi titik awal bagi Hwa-jin dan Gang-soek untuk membentuk BPHP sebagai lembaga yang bertujuan memberikan perlindungan dan keadilan bagi setiap pihak dalam dunia pendidikan, baik siswa, guru, maupun orang tua. Kasus tersebut juga memperlihatkan persoalan lain dalam sistem hukum ketika pelaku yang masih di bawah umur menerima hukuman yang terbatas dan kemudian dapat kembali ke lingkungan sekolahnya.

Pada awalnya, pembentukan BPHP tidak terlepas dari rasa kehilangan dan keinginan untuk membalas apa yang terjadi. Namun, seiring berjalannya cerita, Hwa-jin dan Gang-soek mulai melihat bahwa lembaga tersebut tidak dapat berdiri hanya atas dasar kepentingan pribadi. Keduanya berusaha menjadikan BPHP sebagai lembaga yang lebih besar dan berkelanjutan agar tidak ada lagi pihak dalam dunia pendidikan yang mengalami kejadian serupa.

Dalam wawancaranya yang dilansir dari buro247.my, sutradara Hong Jong-chan menjelaskan bahwa Teach You a Lesson tidak dimaksudkan sekadar menghadirkan hukuman.

“The story shouldn’t simply be about punishment,” ucapnya. Ia juga menekankan tujuan serial ini untuk mengeksplorasi apa arti pendidikan sesungguhnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hukuman bukan menjadi tujuan utama dalam cerita. Melalui konflik yang dihadirkan, Teach You a Lesson justru menyoroti bagaimana pendidikan dapat membantu seseorang memahami kesalahan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan mengalami perubahan.

Hal serupa disampaikan Kim Moo-yul, pemeran Na Hwa-jin. Dalam wawancaranya yang dilansir dari koreatimes.co.kr, ia menjelaskan bahwa tim produksi berusaha agar Teach You a Lesson tidak hanya dikonsumsi sebagai hiburan atau fantasi balas dendam. “We made a conscious effort to ensure the show wouldn’t be consumed merely as mindless entertainment or a cheap revenge fantasy,” ujarnya.

Kim berharap unsur hukuman dalam cerita dipahami sebagai alat naratif yang mendorong karakter menuju refleksi diri, pertobatan, dan penyesalan. Menurutnya, cerita tidak seharusnya berhenti pada hukuman, tetapi juga memperlihatkan bagaimana para siswa berubah setelahnya.

Teach You a Lesson tidak hanya menghadirkan pelajaran bagi karakter-karakternya, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali makna pendidikan. Sekolah bukan sekadar tempat untuk membentuk kepatuhan, melainkan ruang bagi seseorang untuk memahami dampak dari tindakannya, menghargai orang lain, dan belajar dari kesalahan.

Hukuman mungkin menjadi bagian dari proses, tetapi perubahan menjadi titik yang menentukan. Sebab, pelajaran sesungguhnya baru dimulai ketika seseorang menyadari kesalahannya dan memilih untuk berubah.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment