Hits: 2
Kurratul Aina
Pijar, Medan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang saat ini masih melanda Kalimantan tidak hanya menyebar luas secara wilayah, serta meningkatkan risiko infeksi pernafasan akut (ISPA). Namun, juga memiliki dampak yang sebenarnya lebih serius, seperti gangguan penyakit paru kronis, jantung, hingga dapat memicu strok (stroke).
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Winni Tumanggor, menyatakan bahwa asap karhutla lebih berbahaya dibandingkan polusi udara sehari-hari. Sebab, mengandung partikel udara yang berukuran sangat kecil, yaitu kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer yang disebut PM2.5.
“PM2.5 ini sangat kecil, sehingga bisa masuk sampai ke sistem pernafasan paling dalam. Bahkan, gas-gas beracun yang terkandung di dalamnya dapat masuk ke aliran darah,” ujarnya.
Winni turut menjelaskan bahwa partikel PM2.5 dapat lolos dari penyaringan alami utama, yaitu hidung, masuk hingga ke alveoli (kantung udara paru), bahkan berpotensi untuk masuk hingga ke aliran darah dan dapat memengaruhi sistem peredaran darah.
Ia juga menjelaskan bahwa anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis, seperti asma dan penyakit jantung menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak serius oleh asap dari karhutla ini.

(Sumber Foto: detik.com)
Ia menambahkan, dalam kondisi wilayah yang masih terkepung asap dengan konsistensi tinggi, disarankan untuk menggunakan masker yang memiliki filtrasi lebih tinggi, contohnya seperti masker N95 atau KN95/KF94. Tidak hanya itu, kacamata turut disarankan untuk digunakan karena polutan dari asap karhutla juga turut dapat mengiritasi mata.
“Ketika kondisi udara dan kebakaran sangat parah, pemilihan maskernya itu bisa disesuaikan, misalnya masker dengan filtrasi tinggi seperti N95. Selain itu, kacamata juga penting karena ketika mata terpapar dengan asap maka dapat menyebabkan perih, sehingga kacamata juga sangat dibutuhkan,” jelas Winni.
Dalam perpektif kesehatan masyarakat, Winni menekankan bahwa solusi utama bukan hanya untuk merawat dan mengobati masyarakat yang terdampak asap, tetapi mencegah kebakaran hutan melalui regulasi yang diperketat dalam mengawasi keadaan hutan. Selain itu, diperlukan juga kerja sama lintas sektor dari beberapa pihak dalam memaksimalkan pencegahan kebakaran hutan.
Ia menutup pembahasan, dengan menyatakan bahwa edukasi terkait dampak asap serta peringatan dini tentang kualitas udara juga penting diberikan pada masyarakat. Hal tersebut agar masyarakat lebih matang dalam menghadapi dampak dari asap kebakaran hutan dan lahan yang mungkin melanda di masa depan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

