Hits: 14

Lainatus Syifa Hasibuan

Pijar, Medan. Masalah sampah plastik masih menjadi momok menakutkan bagi lingkungan Indonesia. Dengan estimasi produksi sampah harian mencapai 0,7 hingga 1 kilogram per individu, akumulasi limbah dari 270 juta jiwa populasi nasional diproyeksikan menyentuh angka 189 ribu ton per hari. Sebagian besar limbah tersebut bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pengelolaan memadai, sementara sisanya mencemari ekosistem sungai hingga perairan laut.

Merespons krisis lingkungan tersebut, komunitas Ecovia yang diprakarsai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kampanye lingkungan bertajuk “Sehari Sebumi” pada Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini dipusatkan di Sanggar Anak Sungai Deli (SASUDE), sebuah komunitas lokal yang juga aktif bergerak dalam penanganan lingkungan dan sudah terbiasa mengolah limbah plastik menjadi ecobrick.

pemaparan materi ecobrick
Sesi pemaparan materi ecobrick oleh Lukman selaku Founder Sasude
(Fotografer: Lainatus Syifa Hasibuan)

 

Mengusung slogan “Kurangi Hari Ini, Selamatkan Hari Esok”, kolaborasi ini berfokus pada aksi pengelolaan limbah plastik berbasis masyarakat. Ecobrick sendiri merupakan metode penanganan sampah dengan cara memasukkan dan memadatkan limbah plastik bersih ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi keras dan kaku. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai material alternatif berbentuk blok atau bata yang dapat digunakan kembali.

Sebelum puncak acara, rangkaian pra-event telah dilaksanakan saat Car Free Day (CFD). Pada momen tersebut, panitia bersama peserta turun langsung mengumpulkan sampah plastik di area publik.

Ketua Panitia Ecovia, Lowla Santa Claudia, menegaskan bahwa meski pembuatan ecobrick terkesan sederhana, gerakan ini membawa dampak nyata. Menurutnya, proses pemadatan ecobrick membutuhkan sampah plastik dalam jumlah besar sehingga sangat efektif mereduksi penumpukan limbah di lingkungan.

“Impact-nya sangat besar. Satu botol ecobrick membutuhkan kuantitas sampah plastik yang sangat banyak. Bahkan, kumpulan sampah plastik dari satu rumah tangga saja butuh waktu sekitar satu bulan untuk bisa memadatkan satu botol. Jadi, pembuatan ecobrick ini sangat berdampak besar dalam mengurangi penumpukan sampah plastik di lingkungan sekitar,” ujar Lowla.

proses pembuatan ecobrick
Keseruan pembuatan ecobrick oleh peserta Ecovia
(Fotografer: Kiki Nabila Tusu)

 

Antusiasme serupa dirasakan oleh salah satu peserta, Putri Daniati. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru usai mencoba langsung proses pemadatan sampah plastik tersebut.

“Saya merasa sangat excited karena baru kali ini saya tahu ternyata dari pembuatan ecobrick yang saya anggap hal kecil, tetapi ternyata berdampak besar terhadap sampah plastik yang sangat merusak bumi,” ungkapnya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Ecovia berharap kesadaran menjaga bumi dapat terus tumbuh dan menjadi kebiasaan berkesinambungan di tengah masyarakat.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment