Hits: 13
Rifki Partogi Situmorang
Pijar, Medan. Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja modern yang sering kali menuntut kita untuk selalu aktif sejak pagi buta, sebuah tren baru lahir sebagai bentuk “pemberontakan” yang damai tetapi revolusioner, yaitu Chronoworking.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh jurnalis Ellen Scott melalui media Stylist UK, dan mendadak ramai dibicarakan di kalangan profesional dan pemerhati gaya hidup karena menawarkan pendekatan yang jauh lebih memanusiakan manusia. Alih-alih memaksa semua orang untuk tunduk pada jam kerja konvensional pukul sembilan pagi hingga lima sore, Chronoworking mengajak kita untuk bekerja selaras dengan jam biologis tubuh kita sendiri.
Mengutip dari laman forbes.com, konsep ini berakar kuat pada sains tentang ritme Sirkadian, yaitu jam internal tubuh yang mengatur siklus tidur, bangun, dan tingkat energi kita selama 24 jam. Kita semua tahu bahwa manusia tidak diciptakan seragam. Ada kelompok early birds atau si “burung pagi” yang energinya langsung melesat begitu matahari terbit, tetapi ada juga kelompok night owls atau si “burung hantu” yang baru menemukan percikan kreativitas terbaiknya saat dunia luar sudah terlelap.
Selama puluhan tahun, sistem kerja tradisional cenderung memanjakan kelompok pertama dan mendiskriminasi kelompok kedua, menganggap mereka yang telat beraktivitas di pagi hari sebagai pemalas. Chronoworking hadir untuk meruntuhkan stigma tersebut dengan pembuktian bahwa produktivitas sejati tidak diukur dari seberapa pagi Anda menyalakan laptop, melainkan seberapa selaras Anda dengan alarm alami tubuh Anda.
Ketika sebuah perusahaan atau seorang profesional mandiri mulai menerapkan gaya hidup ini, perubahan yang terjadi biasanya sangat signifikan. Seseorang tidak lagi harus memaksakan diri meminum segelas kopi hanya untuk bertahan di rapat pagi yang membosankan. Sebaliknya, mereka dapat mengalokasikan waktu di mana fokus mereka berada di titik tertinggi untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang membutuhkan analisis mendalam.
Ketika energi mulai menurun di siang hari, waktu tersebut bisa digunakan untuk istirahat atau mengerjakan tugas-tugas administratif yang ringan. Hasilnya bukan sekadar tumpukan pekerjaan dapat selesai lebih cepat, melainkan kualitas hasil kerja yang lebih matang dan tingkat stres menurun drastis.
Fleksibilitas ini menjadi angin segar yang sangat krusial di era pascapandemi, di mana batasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan semakin kabur. Banyak pekerja yang mengalami kejenuhan akut karena dipaksa selalu bersiap siaga di jam-jam yang sebenarnya bukan waktu produktif mereka.
Dengan adanya Chronoworking, work-life balance atau keseimbangan hidup bukan lagi sekadar jargon di brosur korporat, melainkan sebuah realitas yang bisa dijalani setiap hari. Kesehatan mental terjaga karena tubuh tidak lagi dipaksa demi mengejar target waktu yang kaku.
Tentu saja, menerapkan Chronoworking secara penuh membutuhkan kedewasaan, komunikasi yang transparan, dan kepercayaan yang tinggi antara pekerja dan manajemen. Diperlukan kompromi seperti menetapkan “jam inti bersama” di mana semua anggota tim wajib hadir secara daring untuk berkoordinasi, sementara sisa jam kerjanya dibebaskan kepada masing-masing individu.
Chronoworking bukan sekadar tentang tren gaya hidup yang keren, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk menciptakan budaya kerja yang lebih sehat, bahagia, dan jauh lebih produktif. Menghargai waktu biologis diri sendiri adalah langkah awal untuk menikmati pekerjaan, bukan lagi sekadar bertahan hidup di dalamnya.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

