Hits: 14

Patrycia Gloryanne Pasaribu

Pijar, Medan. Ikatan Mahasiswa Sastra Inggris (IMSI) Universitas Sumatera Utara (USU), telah menggelar kembali simposium tahunan, bertajuk IMSI’S Annual Symposium 2026 di Gedung Serbaguna Fakultas Ilmu Budaya (FIB), pada Sabtu (9/5/2026).

Tahun ini, simposium yang diinisiasi oleh IMSI USU mengusungkan tema “Voice in Harmony: How Music Shapes Language and English Literature“. Bermakna tentang sebuah eksplorasi mendalam mengenai kaitan antara elemen musik, dengan perkembangan bahasa, serta Sastra Inggris.

Acara ini menghadirkan jajaran pakar dan praktisi, termasuk Tania Tita Shanorra, selaku delegasi Asean SDGs Youth Camp Thailand, serta Bima Prana Chitra dan Qori Islami Aris, selaku akademisi Sastra Inggris USU.

foto bersama panitia imsi
Foto bersama sebagai simbolis pembukaan acara IMSI’S Annual Symposium 2026
(Fotografer: Patrycia Gloryanne Pasaribu)

 

Ketua Panitia IMSI’s Annual Symposium 2026, Bintang Aulia Ar Rivai Nasution, mengungkapkan bahwa pemilihan tema ini didasarkan oleh kedekatan musik dengan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam lingkup Sastra Inggris.

“Musik ini sendiri tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi juga bisa sebagai jembatan yang mempererat hubungan agar semakin harmonis,” jelasnya

Lebih lanjut, Bintang menjelaskan bahwa musik menjadi media yang sangat efektif dan sederhana bagi mahasiswa untuk mendalami struktur bahasa.

“Peran efektif musik di sini terlihat dari bagaimana sederhananya musik bisa dinikmati dengan cara didengar. Dari situlah bisa muncul dorongan untuk semakin mengenal dan mendalami maknanya melalui bahasa Inggris. Sehingga, tanpa disadari itu juga mampu menjadi gerbang utama dalam mengharmonisasi hubungan,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Tania Tita Shanorra, dalam paparannya menekankan bahwa kekuatan musik melampaui dari sekadar teknis suara. Menurutnya, musik memiliki kemampuan untuk menyatukan berbagai latar belakang budaya.

“Musik tidak hanya soal harmoni suara dan nada, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan harmoni hubungan dari setiap budaya musik yang ada, untuk menciptakan keselarasan dalam kehidupan sosial,” ungkapnya.

Meskipun berfokus pada sisi artistik dan sosial melalui musik, simposium kali ini tetap mengarahkan tujuannya untuk membuka wawasan peserta mengenai peluang global yang ada di depan mata. Dengan memahami nuansa bahasa lewat musik, peserta diharapkan memiliki modal komunikasi yang lebih adaptif terhadap keberagaman budaya internasional melalui bahasa Inggris.

Acara simposium ini berlangsung hingga sore hari, dengan dihadiri oleh ratusan peserta yang antusias mengikuti sesi diskusi interaktif. Tidak hanya itu, acara ini juga diwarnai dengan berbagai penampilan hiburan dari panitia pelaksana. Melalui kegiatan ini, IMSI berharap peserta tidak hanya sekadar belajar teori sastra, tetapi juga mampu mengaplikasikan pemahaman budaya tersebut dalam relasi sosial yang lebih luas.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment