Hits: 20
Aura Qathrunnada Gultom
Pijar, Medan. Credo Project, salah satu kelompok mata kuliah Event Organizer dari Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), menggelar Kompetisi Karya Nusantara di Aula FISIP USU, pada Jumat (22/5/2026).
Melalui tema “Warisan Budaya, Wujudkan Karya”, Credo Project ingin mengambil langkah kecil, tetapi tetap bermakna, yaitu dengan menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengekspresikan budaya melalui karya-karya dan kreativitasnya.
Kompetisi ini terbuka untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan dua kategori perlombaan yang dilaksanakan, yaitu kategori menyanyi tradisional dan menyanyi modern. Di kategori menyanyi tradisional, peserta bernyanyi dengan lagu bahasa daerah. Sedangkan di kategori menyanyi modern, para peserta bernyanyi dengan lagu bahasa Indonesia.
Amanda, selaku Project Leader dari kegiatan ini, menyampaikan alasan mereka memfokuskan kompetisi ini kepada siswa menengah pertama dan menengah atas, yaitu karena generasi muda dimulai dari usia tersebut. Menurut mereka, usia ini merupakan era di mana generasi muda mencari jati diri.
“Kami sepakat yang generasi muda, dimulai dari umur mereka [yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, sebagai] adalah umur yang mencari jati diri. Di usia inilah mereka harus mengenal kebudayaan mereka lebih dalam. Memang dimulai sejak dini, tetapi mungkin daya tarik mau milih ke mana itu di usia mereka saat ini,” ungkapnya.

(Fotografer: Aura Qathrunnada Gultom)
Salah satu peserta kategori menyanyi tradisional, Riana Fitria, berasal dari SMA Negeri 1 Tanjung Morawa, menyampaikan bahwa ia mengikuti kompetisi ini untuk mencari pengalaman baru, serta melatih diri untuk dapat berani tampil di panggung.
“Sebenarnya buat cari pengalaman, sih, biar berani tampil di depan, dan memang sudah hobi [menyanyi juga], ” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kesan yang ia dapatkan selama mengikuti kompetisi ini, terasa seru melalui umpan balik yang diberikan oleh juri yang berpengalaman setelah ia tampil.
“Acaranya seru, terus jurinya juga memang sudah sering menang lomba. Biarpun kita tampil, tahulah apa kekurangan kita,” tambahnya.
Tidak hanya menggelar lomba mernyanyi tradisional dan modern saja, kegiatan ini juga mengadakan lokakarya membatik yang dilaksanakan pada pukul 15.00 WIB, dengan diikuti oleh 10 peserta. Selain itu, Credo Project juga menyediakan stan bazar yang ada di halaman FISIP USU untuk meramaikan acara.
Amanda juga menambahkan harapannya agar mereka dapat mengadakan kegiatan yang serupa di lain waktu, serta memperbanyak kategori perlombaannya, sehingga dapat memberikan ruang ekspresi bagi para generasi muda.
“Kami ingin mengajak kalau kebudayaan itu nggak kuno. Mungkin ke depannya, kalau bisa dari kami ada kegiatan seperti ini lagi, diperbanyak perlombaannya untuk diberi ruang pada generasi-generasi muda,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

