Illustrator: Nurul Sukma Asghar

Pukul Tiga Sore

Madeline S Sitio

Pukul tiga sore terdengar biasa saja di telinga kebanyakan orang, tapi tidak untuk gadis seperti Malla. Bagi gadis berambut sebahu itu, pukul tiga sore adalah bagian paling indah dalam satu hari. Kalau boleh meminta kepada Yang Maha Kuasa, Malla akan meminta pukul tiga sore dijadikan dua kali dalam sehari. Sayangnya, tentu saja tidak bisa.

Mata Malla menatap lurus ke bawah, ke arah parkiran yang selalu menjadi tontonannya di pukul tiga sore. Sambil menumpukkan badan di tembok lantai tiga gedung fakultasnya, Malla menatap motor matic berwarna hitam yang bentuknya sudah ia hafal di luar kepala. Malla segera menegapkan tubuhnya saat melihat seseorang mendatangi motor itu. Seseorang itu tertunduk, berkaca di spion sebelum akhirnya membaca sesuatu yang ia ambil dari motornya.

Sebuah surat. Surat dari Malla.

Pengagum rahasianya.

Sayangnya, Malla tidak lebih dari itu.

Malla tersenyum simpul saat surat darinya disimpan ke dalam tas. Gadis itu tidak pernah menulis namanya, hanya sebuah inisal ‘LA’ yang selalu ia tulis di akhir surat. Beruntungnya laki-laki itu tidak pernah membuang surat Malla. Atau mungkin, ia membuangnya di tempat sampah di kamarnya, Malla tidak tahu. Tapi setidaknya, Malla selalu melihat surat-suratnya dibaca, pukul tiga sore.

Juna Andhika namanya. Laki-laki yang menarik perhatian Malla sejak tahun pertama kuliah. Mereka berada di satu fakultas dengan jurusan yang berbeda tetapi tahun yang sama.

“Udah dibaca?”

Malla tersentak. Kepalanya menoleh ke kanan, menemukan satu-satunya sahabatnya yang tahu tentang kelakuannya di pukul tiga sore. Gadis itu tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.

“Betah banget sih, ngasih Juna surat?”

Malla lagi-lagi tersenyum. Ia punya alasan sederhana mengapa ia bertahan menulis surat untuk Juna berbulan-bulan. Arti nama gadis itu adalah jalan penghidupan yang tentram dan bahagia. Jatuh hati pada seorang Juna Andhika bertentangan dengan arti namanya. Siapa yang tidak mengenal laki-laki tampan bertubuh tegap dan berwibawa itu? Tidak ada. Juna adalah wujud dari kata sempurna. Dan Malla tahu, hidupnya bisa-bisa tidak tentram lagi jika ia berani melakukan hal yang lebih gila dari surat rahasia.

“Ayo, turun, udah sore,” ajak Malla pada Kira, sahabatnya itu.

“Malla, sebentar,” tahan Kira. “Ngirimin Juna surat ga bikin Juna tahu kamu suka sama dia. Kamu ga bergerak kemana-mana, Malla. Lebih baik berhenti. Toh, Juna kelihatannya ga sepeduli itu sama semua surat kamu?”

Pedas. Tapi Kira benar.

Hari berganti. Kata-kata Kira berputar di kepala Malla sepanjang malam, sampai pagi, bahkan Malla kehilangan fokus saat dosennya mengajar. Malla masih mengingat apa yang ditulisnya untuk Juna di surat terakhirnya kemarin sore.

Juna tahu? Kalau supir angkutan umum butuh berteriak sekuat tenaga untuk menarik perhatian penumpang, Juna hanya butuh membuka mata dan tersenyum untuk menarik perhatianku. Selamat pukul tiga sore, Juna.

Seharusnya, Malla juga menuliskan selamat tinggal di sana.

Keputusannya bulat. Surat kemarin adalah surat terakhirnya. Lagipula, ratusan surat pun tidak akan ada artinya untuk Juna karena laki-laki itu tidak pernah tahu siapa yang meletakkan surat di motornya setiap hari. Dibanding menampakkan diri pada Juna, Malla lebih memilih mundur dan berhenti. Lalu, hidupnya akan kembali normal tanpa pusing memikirkan kalimat manis untuk Juna setiap hari. Hidup Juna juga akan kembali normal, tanpa mengecek motor setiap pukul tiga sore.

Setidaknya, begitulah yang ada di pikiran Malla.

Seminggu berlalu. Tidak ada lagi Malla yang bersender di lantai tiga, menatap ke parkiran pukul tiga sore. Tidak ada lagi amplop biru yang tertempel di motor matic milik Juna. Tidak ada permen atau makanan lucu yang terselip bersama surat di motor Juna.

Di hari ke delapan, Malla menyadari sesuatu yang berbeda. Motor Juna tidak ada di parkiran fakultas sejak pagi sampai sore, padahal laki-laki itu tidak pernah absen membawa motor matic kesayangannya, bahkan tempat parkirnya selalu sama setiap hari.

Malla tidak ambil pusing, kakinya melangkah keluar dari area kampus karena matahari mulai tenggelam. Gadis itu pergi ke halte, tempat di mana ia selalu menunggu angkutan umum untuk pulang setiap hari. Namun, langkah kaki Malla terhenti saat melihat sosok Juna bersandar di tiang halte, lengkap dengan jaket berwarna merah yang Malla hafal.

Menghela napas panjang, Malla memilih untuk melanjutkan langkahnya tanpa menatap Juna. Lagipula, laki-laki itu juga tidak menatapnya. Malla memilih berdiri dengan jarak jauh dari Juna demi kesejahteraan hatinya. Ketika angkutan umum tujuannya datang, Malla segera naik.

Yang tidak ia sangka, Juna juga menaiki angkutan umum yang sama.

Mereka tidak duduk bersebelahan, suatu hal yang sangat menguntungkan bagi Malla karena ia bisa menjerit jika saja laki-laki itu mengambil tempat duduk di sebelahnya. Malla tidak mengerti mengapa Juna bisa terdampar di angkutan umum. Setahu Malla, laki-laki itu bahkan punya mobil. Jika memang motornya sedang tidak bisa digunakan, kenapa tidak memakai mobil?

Lamunan Malla terhenti saat ia sadar bahwa gang kosannya sudah dekat. Malla mengetuk atap angkutan umum, kemudian turun setelah memberi ongkos pada sang supir.

Yang tidak ia sangka untuk kedua kalinya, Juna turun tepat setelah ia turun.

Masih mencoba tidak peduli, Malla segera berjalan memasuki gang. Juna tidak mengenalnya, maka tidak ada alasan bagi Malla untuk lebih lama berdiri di dekat laki-laki itu. Anehnya, Juna memasuki gang yang sama dengan Malla. Selama ini Malla memang tidak pernah tahu di mana Juna tinggal, tetapi gadis itu yakin Juna tidak tinggal di dekat kosannya.

Kaki Malla berhenti, beberapa meter sebelum sampai di gerbang kos.

“Kenapa berhenti?”

Malla berbalik. Juna ada di belakangnya, menatap Malla lekat-lekat.

“H-hah?”

“Kenapa berhenti?” ulang Juna.

Malla mengerjapkan matanya, memastikan bahwa Juna berbicara padanya, bukan pada orang lain. Nyatanya, di sana memang tidak ada orang lain. Hanya ada Juna dan Malla.

“Karena udah sampai gerbang kos,” jawab Malla seadanya.

Juna menggeleng. Bukan berhenti seperti itu yang Juna maksud.

“Kalau supir angkutan umum butuh berteriak sekuat tenaga untuk menarik perhatian penumpang, kamu hanya butuh jadi Malla Allena untuk menarik perhatianku.”

Malla membeku, matanya menatap Juna tidak percaya. Kalimat itu, nama panjangnya, bagaimana bisa Juna tahu?

“Kenapa berhenti, La?” tanya Juna sekali lagi.

“Juna tahu?”

Juna tersenyum. “Kamu selalu berdiri di lantai tiga jam tiga sore, kelihatan di spion.”

Kebodohan Malla yang baru ia sadari. Juna tidak pernah berkaca di spion. Laki-laki itu memutar spion ke atas, untuk melihat Malla di lantai tiga.

“Jadi, ini kosan kamu?”

Malla hanya mengangguk, merasa lemas dan tidak tahu harus berkata apa.

“Besok ada kelas?”

Malla mengangguk lagi, kali ini sambil menjawab. “Jam sepuluh.”

“Ga usah naik angkutan umum. Jam setengah sembilan aku jemput di sini.”

Setelah mengatakannya, Juna berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Malla dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“Juna!” panggil Malla tidak terima, “maksudnya apa?”

Langkah kaki Juna berhenti. Ia berbalik, kemudian tersenyum dan memperlihatkan gigi rapinya. “Maksudnya Juna Andhika suka sama kamu, Malla Allena. Selamat pukul enam sore, sampai bertemu besok.”

Dengan itu, Juna benar-benar pergi dari hadapan Malla.

Malla menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul enam sore. Gadis berambut sebahu itu tersenyum lebar. Tidak pernah ia sangka bahwa pukul tiga sore akan punya saingan, tapi tidak apa, pukul tiga ataupun pukul enam, keduanya sama-sama indah untuk Malla. Karena keduanya telah menjadi saksi cintanya yang akhirnya terbalas.

One comment

  1. JUNA GEMES AMAAATT YANG BIKIN CERITA JG AW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *