Hits: 38

Reporter Pijar

Pijar, Medan. Peringatan Hari Seni Sedunia (World Art Day) yang jatuh setiap 15 April merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya seni dalam kehidupan manusia. Peringatan ini menekankan peran seni sebagai sarana ekspresi, komunikasi, penggerak kreativitas di berbagai aspek kehidupan, serta menghormati para seniman dan karya-karyanya.

Di lingkungan kampus, momentum ini turut menjadi refleksi atas perkembangan kegiatan seni mahasiswa yang umumnya dijalankan melalui komunitas atau unit kegiatan sebagai wadah berekspresi dan berkreasi.

Dalam konteks tersebut, kondisi dan perkembangan kegiatan seni di kampus dapat dilihat dari pengalaman serta pandangan mahasiswa, baik yang terlibat langsung dalam aktivitas seni maupun yang berada di luar bidang tersebut. Persepsi mahasiswa terhadap seni juga menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana seni diposisikan dalam kehidupan kampus saat ini.

Ketua Komunitas Seni Celestial Art Club, Nabila Zuki, menyampaikan bahwa cara mahasiswa memaknai seni saat ini beragam dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan, pertemanan, media sosial, dan keluarga. Ia menjelaskan bahwa di beberapa lingkungan akademik, seperti program studi yang berkaitan dengan sastra, minat terhadap seni masih terlihat dan mendorong terbentuknya komunitas seni.

“Beberapa mahasiswa masih menikmati seni, tetapi ada juga yang tidak terlalu peduli. Hal itu dipengaruhi oleh lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan seni di komunitasnya masih bergantung pada partisipasi internal anggota, terutama dalam hal dukungan terhadap kegiatan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Maritza Putri Ardhani, mahasiswa non-seni dari rumpun kesehatan yang menilai bahwa kegiatan seni di kampus, khususnya di Medan, cenderung kurang terlihat dan belum berkembang secara optimal. Ia mengungkapkan bahwa di lingkungan kampus berbasis kesehatan, seni tidak lagi menjadi bagian yang relevan dalam pembelajaran sehingga ruang untuk kegiatan seni menjadi terbatas.

“Kegiatan seni di kampus masih terasa tenggelam dan belum banyak dikembangkan sehingga eksposurnya juga minim,” ungkapnya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, peringatan Hari Seni Sedunia menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana ruang bagi kegiatan seni telah tersedia di lingkungan kampus. Ke depannya, dukungan yang lebih luas diharapkan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri melalui seni.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment