Hits: 23
Siti Nasuha Abidin Damanik
Pijar, Medan. Komunitas Garis Literasi Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan kegiatan sosialisasi, dengan tema “Kelas Digital: Perangi Hoaks dengan 4 Pilar Literasi Digital”. Kegiatan ini berfokus pada isu hoaks yang bertujuan membentengi para siswa dari derasnya arus informasi palsu di dunia maya. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 7 Medan, pada Sabtu (18/4/2026).
Ketua Pelaksana Kegiatan, Davina Syafa Fatia, menjelaskan bahwa adanya fasilitas kelas digital di SMPN 7 Medan menjadi alasan utama mengapa kegiatan ini dilaksanakan di sana.
“Sekolah ini memiliki digital classroom yang sesuai dengan misi kami untuk menyebarkan literasi media digital,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, isu hoaks diangkat sebagai topik utama karena besarnya kerentanan pelajar sekolah menengah terhadap informasi yang belum terverifikasi, khususnya di era digital yang masif saat ini.
Davina mengungkapkan, bahwa saat ini banyak pelajar yang masih mudah percaya pada informasi tanpa melakukan pengecekan ulang.
“Banyak pelajar yang masih mudah percaya pada informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Biasanya, mereka langsung percaya tanpa memverifikasi informasi terlebih dahulu. Oleh karena itu, kami ingin mengedukasi mereka dengan mengaitkan isu hoaks dengan empat pilar literasi digital,” jelas Davina.
Dalam sesi pemaparan, para siswa diberikan pemahaman mendalam mengenai definisi hoaks, cara mengidentifikasinya, hingga strategi praktis untuk memutus rantai penyebaran berita bohong melalui pilar Cakap, Aman, Budaya, dan Etika. Untuk memastikan materi terserap dengan baik, Garis Literasi USU mengemas kegiatan secara interaktif melalui rangkaian pre-test, penyampaian materi, ice breaking, kuis berhadiah, hingga post-test sebagai indikator keberhasilan sosialisasi.

(Fotografer: Siti Nasuha Abidin Damanik)
Melalui metode tersebut, tim dapat mengukur sejauh mana pemahaman siswa meningkat setelah mengikuti kegiatan.
“Tujuan utama kami adalah agar siswa mampu mengidentifikasi hoaks. Jadi, kami melakukan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman mereka sebelum dan sesudah sosialisasi. Hasil tersebut kemudian kami olah dan jadikan sebagai publikasi riset setelah kegiatan ini selesai,” tambah Davina.
Dampak positif kegiatan ini dirasakan langsung oleh para peserta, salah satunya adalah Zaskia Adipa, siswa kelas 8 Smart Class. Adipa mengaku dirinya memperoleh pengetahuan baru terkait aspek keamanan digital, sehingga ke depannya bisa lebih berhati-hati dan akan selalu mengecek sumber informasi terlebih dahulu.
“Sebelumnya, saya belum tahu tentang aspek keamanan dalam penggunaan digital. [Namun,] sekarang jadi lebih paham. Kalau saya menerima informasi, saya akan mengecek sumbernya terlebih dahulu sebelum memercayai atau menyebarkannya,” ungkap Adipa.
Melalui inisiatif ini, Garis Literasi USU berharap para siswa tidak hanya sekadar bisa membedakan berita benar dan salah, tetapi juga mampu menerapkan etika bermedia sosial yang baik.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

