Hits: 28
Putri Romawani Br Simanjuntak
Pijar, Medan. Dunia anak-anak adalah semesta kecil yang dipenuhi keajaiban. Setiap langkah kecil mereka membawa rasa ingin tahu tentang dunia yang dirasa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang luas tempat imajinasi berlari bebas tanpa batas. Cerita indah ini dikemas dalam film Na Willa.
Film yang resmi tayang pada 18 Maret 2026 ini disutradarai oleh sosok di balik animasi Jumbo, yaitu Ryan Adriandhy. Na Willa merupakan film yang diadaptasi dari novel Na Willa: Serial Catatan Kemarin. Berlatar pada dekade 1960-an, cerita ini mengisahkan kehidupan gadis kecil bernama Na Willa yang menjalani masa kanak-kanaknya dengan penuh warna, kejutan, dan tawa yang terasa hangat.
Setelah membaca novelnya, Ryan melihat potensi besar untuk menghidupkan kisah ini ke layar lebar. Baginya, kisah Na Willa bukan sekadar cerita anak, tetapi juga jembatan nostalgia yang mampu membawa penonton kembali ke hangatnya masa kanak-kanak.
“Aku sangat sayang dengan karakter Willa karena dimensi emosinya yang kaya dan sangat relate dengan masa kecil kita,” ujar Ryan dalam konferensi pers film Na Willa.
Na Willa merupakan anak kecil berusia enam tahun yang tinggal di sebuah gang kecil dekat dengan rel kereta api. Hari-harinya diisi dengan bermain bersama Farida, Bud, dan Dul yang sebaya dengannya. Sepulang bermain, Willa belajar di rumah bersama Mak, sosok yang sangat Willa kagumi. Setiap hari dilalui Willa dengan kehangatan keluarga dan tawa yang ingin ia genggam selamanya.
Meski begitu, waktu tak pernah benar-benar bisa ditahan. Kebersamaan itu mulai berubah. Seiring bertambahnya usia, satu-persatu temannya mulai masuk sekolah, menemukan kesibukan baru dan tak lagi punya waktu bermain sepanjang dulu. Terbesit dalam benaknya keinginan untuk bersekolah seperti teman-temannya, tetapi Willa terlalu takut untuk menyampaikannya kepada Mak. Mak merasa belajar bersamanya sudah cukup untuk membuat Willa lebih pandai dari teman-temannya, apalagi dengan hadiah buku yang rutin diberi oleh Pak, hingga membuat kamar Willa terasa seperti ruangan kelas kecil.
Perlahan, Willa mulai belajar tentang pentingnya sebuah tanggung jawab, kejujuran, dan keberanian untuk menyuarakan keinginan. Sikap bijak dan pintarnya membuat Mak merasa bahwa dunia Willa perlu diperluas. Willa harus menambah pengetahuannya di sekolah seperti anak seusianya. Meskipun awalnya tak mudah, tetapi akhirnya Willa menemukan sekolah dan teman-teman yang sesuai dengan keinginannya.
Salah satu hal yang membuat film ini begitu menarik adalah sosok Willa yang tak membutuhkan ruang besar untuk bermimpi. Justru dari gang sempit dan hari-hari yang sederhana, ia menciptakan dunia yang tak terhingga dalam imajinasinya. Setiap hari, Willa menemukan hal baru untuk dibawa ke rumah dan tak sungkan bertanya pada Mak. Hal ini menggambarkan logika seorang anak kecil yang tak dibatasi oleh benar atau salah.
“Aku sangat suka ketika Willa bertanya kepada Mak, itu membuatku relate kepada masa kecilku yang suka bertanya kepada Emak dan menemukan banyak hal,” tutur Ryan.
Selain itu, Anggia Kharisma, produser dari Visinema Studios yang menaungi film ini, menyampaikan bahwa film Na Willa merupakan bagian dari komitmen Visinema untuk menghadirkan cerita yang berkualitas bagi anak dan keluarga. Bagi Anggia, cerita anak-anak seperti ini memiliki daya tarik yang besar.
Melalui tagar #JadiAnakAnak, film ini mengajak penonton untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu mengingat kembali untuk menelusuri kenangan masa kecil yang polos, tetapi penuh warna.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

