Hits: 22

Trisha Permata Lidwina Lumbangaol

Pijar, Medan. Di tengah derasnya arus musik modern yang serba cepat, kadang sebuah lagu lama justru terasa lebih menenangkan dan menjadi jalan pulang. Salah satunya adalah lagu “Love Is All That Matters” dari Eric Carmen. Walaupun tidak selalu menduduki puncak tangga lagu, pesan yang dihadirkannya terasa abadi, bahkan semakin relevan di dunia yang penuh gejolak saat ini.

Sejak nada pembukanya mengalun, lagu ini menciptakan suasana hangat yang membangun emosi. Piano lembut berpadu dengan vokal khas Eric Carmen yang penuh perasaan, memberi ruang bagi pendengar untuk sejenak melupakan hiruk-pikuk kehidupan. Aransemen musiknya tidak berlebihan, justru kesederhanaannya membuat setiap lirik terasa lebih jujur dan menyentuh hati.

Di balik judul yang sederhana, lagu ini menyimpan pesan luas tentang arti cinta. Cinta di sini tidak semata-mata diartikan sebagai hubungan romantis antara dua orang, melainkan sebagai nilai kemanusiaan yang menghubungkan semua orang, yakni rasa kepedulian, empati, dan kemampuan memahami sesama meskipun hidup dalam perbedaan.

Pesan ini menjadi semakin membekas ketika kita mengamati kondisi dunia saat ini. Berbagai berita tentang konflik, perang, bahkan tragedi kemanusiaan terus bermunculan dari seluruh penjuru dunia. Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, bahkan harapan masa depan akibat kekerasan yang tiada henti. Lagu ini menjadi pengingat bahwa di balik segala perbedaan yang memisahkan manusia, masih ada nilai fundamental yang seharusnya menyatukan kita, yaitu cinta.

Sering kali manusia mudah terperangkap dalam batas-batas buatan mereka, baik dari perbedaan negara, agama, ras, atau pandangan politik. Batas-batas itu perlahan berubah menjadi tembok pemisah tiap individu. Namun, lewat lagu ini, Eric Carmen seolah mengajak pendengarnya untuk menilik kembali esensi terdasar manusia, yakni kebutuhan mencintai dan dicintai.

Keindahan lagu ini terletak pada kemampuannya membuat pendengar merenung. Saat melodi mengalun pelan, kita diajak memperlambat langkah dan meninjau hidup dari sudut yang lebih sederhana. Kita diingatkan pada hal-hal kecil yang sering terlewat, baik dari pelukan hangat keluarga, gelak tawa bersama teman-teman, atau kebaikan sederhana dari orang yang tak kita kenal.

Di situlah cinta sesungguhnya bersemayam. Ia tak selalu muncul dalam peristiwa besar yang dramatis. Kadang cinta hadir dalam perhatian kecil, kata-kata yang menenangkan, atau keinginan untuk memahami orang lain tanpa menghakimi. Cinta ada di mana-mana, hanya manusia yang terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Mendengarkan “Love Is All That Matters” seperti membuka jendela kecil di tengah dunia yang terasa berat. Lagu ini memang tak memberi solusi bagi konflik global atau tragedi kemanusiaan. Namun, ia mengingatkan bahwa manusia masih mampu saling peduli. Di balik kekacauan, empati tetap hidup. Itulah yang membuatnya tetap indah hingga kini. Saat dunia terasa keras, melodi sederhana dapat mengingatkan bahwa pada akhirnya cinta adalah yang paling bermakna.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment