Hits: 10

Yudika Phareta Simorangkir

Pijar, Medan. Tahukah kamu bahwa ternyata ada olahraga yang menggunakan unsur permainan Seluncur Es (Ice Skating), tetapi tidak dilakukan seperti teknik pada umumnya? Disebut dengan Seluncur Indah (Figure Skating), permainan ini menggabungkan olahraga dan seni di waktu yang bersamaan. Tidak seperti olahraga Ice Skating biasanya, olahraga yang satu ini berfokus pada penampilan tarian yang indah dengan teknik-teknik yang cukup sulit untuk dilakukan, sehingga harus benar-benar mempelajarinya dengan tepat dan konsisten.

Olahraga ini menjadi sangat populer sebagai aktivitas rekreasi dan olahraga yang terorganisir pada pertengahan abad ke-19. Bahkan, arena dan klub-klubnya berkembang pesat di seluruh dunia. Aturan permainan dari olahraga Figure Skating adalah mencetak poin berdasarkan kriteria yang ditetapkan, yakni keterampilan seluncur es, transisi, penampilan, interpretasi, dan koreografi.

Dilansir dari nbcolympics.com, Figure Skating sudah menjadi cabang olahraga Olimpiade Musim Dingin tetap sejak 1924 di Chamonix, Prancis. Meskipun olahraga ini termasuk dalam kategori olahraga Olimpiade Musim Dingin, tidak menutup eksistensinya di Indonesia yang merupakan negara daerah Tropis.

Federal Ice Skating Indonesia (FISI), badan pengurus resmi untuk olahraga seluncur es di Indonesia, telah diakui oleh Komite Olimpiade Indonesia (KONI), serta menjadi anggota International Skating Union (ISU) dan Asian Skating Union (ASU). Situs juara.net mencatat, Indonesia menciptakan sejarah baru dalam dunia olahraga dengan berpartisipasi dalam Asian Winter Games 2017. Bahkan, di tahun yang sama, Indonesia menjadi tuan rumah Skate Asia 2017 yang diselenggarakan di BX Rink, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Dengan segala risikonya, Figure Skating adalah olahraga paling elegan yang pernah ada. Olahraga ini menilai gerakan pemain (skater), mulai dari gerakan freestyle lompatan, putaran, lifts, sikap anggun, hingga gerakan kaki (footwork) yang dilakukan di atas es, sehingga menjadi esensi sebenarnya dari Figure Skating. Olahraga ini dimainkan dengan beberapa kategori, yaitu men’s singles, women’s singles, pair skating, ice dancing, synchronize skating (non-olympic) dan four skating (non-olympic).

Jika dilihat dari sudut pandang kompetisi olahraga, Figure Skating memiliki sistem penilaian yang cukup rumit. Penilaian tersebut berpedoman pada ISU. Ada dua kriteria yang dinilai, yaitu TES (Technical Element Score) dan PCS (Program Components Scrore).

Menurut catatan dari mncvision.id, pada PCS, aspek yang dinilai adalah penampilan seni atlet secara keseluruhan. Misalnya, eksresi skater, penjiwaan terhadap musik, ketepatan gerakan terhadap musik, koreografi, dan lain sebagainya. Atlet Figure Skating tidak bisa hanya sekadar lompat, tetapi ada teknik penempatan tumpuan bilah sepatu (blade) yang tepat dan pendaratan yang anggun.

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan dalam Figure Skating. Pertama, Spirals, teknik yang paling terkenal di antaranya spiral depan dan belakang, memegang sepatu roda, dan spiral maut. Gerakan death spiral dilakukan dalam dua posisi, di dalam dan di luar, dan posisi skater wanita menentukan arah spiral. Partner pria akan menggenggam dan menggerakan partner wanita dengan lenggannya, lalu wanita akan mencondongkan tubuh ke belakang secara terbalik hingga kepalanya hampir menyentuh es.

Kedua, Spins, putaran yang baik harus memenuhi empat parameter, yakni kecepatan, keseimbangan, garis estetika, dan pemusatan. Ketiga, Jump, dengan lompatan utama yakni, Axel, Salchow, Flip, Lutz, dan Toe Loop yang sering dilakukan sebagai lompatan ganda. Berdasarkan dari semua jenis lompatan tersebut, Axel dianggap yang paling sulit.

Oleh karena itu, Figure Skating bukan hanya sebuah olahraga seluncur es dengan rangkaian lompatan dan putaran yang presisi, tetapi juga berbicara tentang keberanian, ketekunan, dan proses yang besar di dalamnya. Eksistensinya bukan hanya sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga sebagai seni dan disiplin.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment