Hits: 47
Muhammad Fikri Haikal Saragih
Pijar, Medan. Hadirnya desa wisata menjadi aspek penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi pariwisata suatu daerah. Foursety, sebuah nama yang mengubah wajah Desa Kutagugung di Kabupaten Karo menjadi destinasi baru desa wisata di kaki Gunung Sinabung. Desa wisata ini hadir berkat program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara (USU).
Awalnya, desa ini menghadapi berbagai situasi yang cukup sulit, seperti konflik dengan investor di Danau Lau Kawar, ketidakpastian legalitas aset wisata, serta tidak adanya penghasilan desa. Masyarakat hampir hilang kepercayaan kepada pembangunan dan pemerintah, sehingga sempat mendorong aksi demonstrasi untuk menuntut keadilan tata kelola wisata.
Dilansir dari laman resmi lppm.usu.ac.id, Foursety lahir dari sebuah forum bersama Asta Cita Summit 2025. Desa Kutagungung resmi menjadi desa wisata berkat kolaborasi USU, Kemendes, dan Pemkab Karo. “Four” merepresentasikan empat aspek kekuatan, yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat, dan media. Sementara “Sety”, berarti kesetiaan, berkolaborasi, dan keberanian memaknai tantangan menjadi peluang.

(Sumber Foto: lppm.usu.ac.id)
Samerdanta Sinulingga, selaku salah satu dari Tim Pelaksana program desa binaan, menyatakan bahwa desa ini bukan sekadar destinasi wisata semata.
“Foursety bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga sebagai bukti bahwa ilmu pengetahuan dapat menghidupkan cahaya bagi desa. Proses dari gagasan hingga dampak ekonomi bagi Desa Kutagugung menunjukkan bagaimana kolaborasi yang tepat bisa mengubah tantangan menjadi peluang,” katanya.
Foursety mengusung konsep agrowisata, sebuah konsep pariwisata yang memanfaatkan sektor pertanian warga sebagai objek dan daya tarik wisata di desa ini. Jadi, aktivitas bertani warga berpadu dan menyatu dengan pengalaman wisata. Kegiatan wisata lainnya yaitu susur sungai, berkemah, dan berenang di kolam dengan panorama Gunung Sinabung.
Pengelolaan desa wisata ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat desa, mulai dari petani yang mengelola langsung unit wisata, warga yang menyumbang sejumlah lahan untuk kawasan wisata, ibu-ibu menjadi pengusaha kuliner yang mengelola kantin wisata, hingga pemuda desa yang menjadi pemandu wisatanya. Hal ini memberikan dampak yang cukup merata di semua lini masyarakat.
Samerdanta juga mengatakan keberhasilan Foursety didorong oleh inovasi USU, berupa tata kelola yang unggul.
“Keberhasilan Foursety didorong oleh inovasi USU, seperti inovasi tata kelola yang transparan tanpa pungli, promosi konten digital berbasis Instagram dengan target 800.000 tayangan, kolaborasi pentahelix berlandaskan aksi nyata untuk memulihkan kepercayaan masyarakat, serta membangun identitas ideal Foursety sebagai kebaruan dalam dunia pariwisata desa,” ungkapnya.
Desa wisata ini tidak hanya memberikan dampak secara ekonomi jangka pendek, tetapi juga menciptakan sistem berkelanjutan bagi desa dan sekitar untuk menginspirasi desa-desa lain di Sumatra Utara maupun Indonesia.
Terkelin Sembiring, selaku Kepala Desa (Kades) Kutagugung, turut mengungkapkan harapan dan terima kasih atas bantuan promosi yang dilakukan untuk memperkenalkan desa wisata Foursety ke masyarakat luas.
“Kami, seluruh masyarakat desa berharap, kegiatan wisata ini bisa meningkatkan pendapatan, kesejahteraan masyarakat, dan desa bisa semakin terkenal di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah Tanah Karo,” harapnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

