Hits: 36
Anggun Natasya Sinambela / Lainatus Syifa Hasibuan
Pijar, Medan. Ada sebuah cerita yang menenangkan dari film Hear Me: Our Summer. Tidak ada teriakan, tidak ada konflik besar, tetapi hanya dua manusia muda yang bertemu di tengah musim panas yang menunjukkan bahwa dari keheningan, tumbuhlah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cinta. Film Korea yang tayang pada November 2024 ini menjadi salah satu karya yang menyentuh rasa.
Diperankan oleh Hong Kyung, Roh Yoon-seo, dan Kim Min-ju, karya ini diadaptasi dari Hear Me (2009), komedi romansa asal Taiwan yang merupakan karya dari Cheng Fen-fen. Dalam film Hear Me: Our Summer, Cho Sun-ho sebagai penulis dan sutradara, memberikan modifikasi yang relatif sedikit demi mempertahankan nuansa indah yang dapat dihadirkan lewat kisah cinta dari karakternya.
Film ini mengikuti kisah Yong-jun, seorang pemuda yang sedang mencari arah hidup setelah lulus kuliah. Hari-harinya diisi dengan rutinitas sederhana sebagai pekerja paruh waktu di toko makan kotak keluarganya. Ia hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa gairah. Sampai suatu hari ia bertemu dengan Yeo-reum, seorang perempuan yang hidup dalam kesunyian, tetapi penuh makna.
Semasa hidup, Yeo-reum merawat adiknya, Ga-eul yang merupakan seorang atlet renang tunarungu. Ia menjadi sosok yang kuat, mandiri, dan penuh kasih. Pertemuan antara Yong-jun dan Yeo-reum terjadi secara kebetulan di kolam renang, ketika Yeo-reum tengah menemani adiknya. Sejak pandangan pertama itu, dunia Yong-jun menjadi berubah. Sosok Yeo-reum membuatnya ingin mengenal lebih jauh, menyadarkan dirinya bahwa hidup ternyata bisa terasa lebih damai ketika dijalani dengan hati, bukan sekadar langkah.
Hal yang membuat Hear Me: Our Summer terasa spesial adalah cara film ini memperlakukan keheningan sebagai bahasa. Tidak ada dialog yang mendominasi seperti film pada umumnya. Sebagian besar adegan dilakukan dalam aspek non-verbal, seperti tatapan mata, senyum, dan gerak tangan sangat ditonjolkan. Dalam bahasa isyarat, selain gerak tangan atau tubuh, ekspresi wajah menjadi salah satu medium penting untuk menyampaikan makna dan emosi.
Yong-jun yang awalnya canggung, mulai mempelajari bahasa isyarat agar bisa memahami Yeo-reum dan adiknya. Seni gerakan tangan yang ia pelajari menjadi bukti kesungguhannya untuk memahami Yeo-reum dan Ga-eul.
Visual film ini juga memanjakan mata. Sinar matahari musim panas, warna-warna lembut, dan komposisi kamera yang tenang membuat setiap cuplikan terasa seperti lukisan. Tidak berlebihan untuk menyebut bahwa film ini seperti puisi visual tentang keheningan. Tempo yang lambat justru membuat penonton tenggelam dalam suasana. Kita akan ditemani dengan suara kehidupan yang nyata yang mengiringi perjalanan dua orang yang meniti jalan untuk saling memahami.
Hubungan antara Yong-jun dan Yeo-reum tumbuh tanpa drama besar. Hubungan mereka tidak berawal dari kata cinta, tetapi dari kepedulian. Yeo-reum yang selama ini hidup untuk adiknya, perlahan mulai menyadari bahwa dirinya juga berhak untuk bahagia.
Sementara Yong-jun, yang semula tidak tahu ke mana arah hidupnya, menemukan makna baru melalui kehadiran sosok kakak beradik tersebut. Film Hear Me: Our Summer tidak memaksa penonton untuk tersentuh dan berurai air mata, tetapi membuat kita merasakan sebuah empati yang lahir dari keheningan dan kesederhanaan.
Secara halus, film ini menyentil bagaimana orang kebanyakan memandang kehidupan para disabilitas sensorik pendengaran. Dalam beberapa adegan, terdapat ucapan maupun tindakan diskriminasi yang masih mereka rasakan. Di luar itu, rupanya ketidaksesuaian pandangan terhadap para disabilitas pendengaran ini tidak hanya terjadi oleh orang umum. Bisa jadi, kesalahpahaman tersebut juga masih dilakukan oleh orang-orang terdekat.
Film ini juga berbicara tentang kedewasaan emosional, bahwa mendengar bukan tentang kemampuan telinga, melainkan kemauan hati untuk memahami. Dalam satu adegan yang sederhana tetapi tetap kuat, Yong-jun mencoba mengucapkan “aku menyukaimu” dalam bahasa isyarat, sehingga Yeo-reum hanya tersenyum, tanpa menjawab apa pun. Namun, di balik senyum itu, ada jawaban yang tidak butuh suara karena cinta memang tidak selalu harus diucapkan untuk bisa dirasakan.
Menonton film Hear Me: Our Summer terasa seperti membaca surat cinta yang tidak dikirimkan, tetapi disimpan baik-baik di dalam hati. Ini adalah film tentang dua orang yang saling menemukan diri mereka di antara kesunyian. Tentang keberanian untuk tetap hadir, bahkan ketika kata-kata tidak mampu menjadi jembatan dalam mengungkapkan perasaan.
Film ini berfokus pada kisah menyentuh hati yang dibuat oleh karakter-karakter baik hati, sehingga membuat penonton merasakan perasaan yang menyenangkan dan membekas. Terlebih, kisah cinta pertama belakangan makin sering terdepak dalam genre romansa, tetapi film ini mampu menyuguhkannya dengan berbeda dan menarik.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus

