Hits: 10
Tamara Laisa Damanik
Satu kelas sudah tahu bahwa kami berlima—Aku, Lili, Nayla, Rani, dan Mira—sangat akrab. Kami selalu pergi ke mana pun bersama, mulai dari ke kantin, di kelas, hingga jalan-jalan sepulang sekolah. Banyak yang iri pada kami karena terlihat begitu kompak dan bahagia tetapi di balik keakraban dan tawa kami, ada sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Nayla selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikannya. Banyak siswa yang menyukainya, sementara di sisi lain, Rani selalu ingin menjadi pusat perhatian di antara kami berlima. Saat kami berkumpul dan saling bercerita, ia selalu ingin suaranya yang paling didengar.
Ketika ada salah satu dari kami yang lebih unggul, Rani langsung cemburu.
“Cuma itu saja bangga? Aku juga bisa,” katanya setiap kali merasa tersaingi.
Awalnya kami menganggap itu hal kecil, tetapi lama-lama sikapnya membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Suatu hari, kami berencana untuk berkumpul di rumah Mira yang jaraknya cukup jauh dari sekolah.
“Tunggu di sekolah dulu ya, aku dan Mira pergi dulu ambil kendaraan,” ucap Rani.
Akhirnya aku, Lili, dan Nayla menunggu mereka di lingkungan sekolah. Beberapa waktu kemudian, Rani menelepon Nayla.
“Nayla, yuk keluar. Ajak yang lain juga, kita berangkat sekarang,” katanya dari seberang telepon.
Kami bertiga pun segera keluar dari gerbang sekolah, tetapi alangkah terkejutnya kami saat melihat hanya ada dua motor yang ada di depan sekolah. Padahal kami berlima, hal itu menandakan satu orang tidak akan bisa ikut.
Kami berunding sebentar mencari solusi. Suasana mulai canggung.
“Bagaimana kalau Mira, Nayla, dan Lili bonceng tiga?” usul Rani santai.
Namun Nayla langsung menolak dengan nada manja.
“Enggak mau ah, sempit. Nanti dikira orang cewek enggak benar.”
Rani berusaha membujuknya, tetapi Nayla tetap bersikeras. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka memutuskan sesuatu yang tidak aku sangka—aku yang diminta naik angkutan umum sendirian.
“Kenapa aku yang harus naik angkutan umum sendiri? Kalian enggak punya hati, ya?” ujarku dengan nada marah dan kecewa.
Mira berusaha menjelaskan, “Bukan begitu maksudku, aku cuma kasih saran… mana tahu kamu bersedia.”
Namun ucapannya terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.
Aku melihat mereka berempat berbisik-bisik, tertawa kecil sambil melirik ke arahku. Hati ini rasanya sesak. Aku menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Kalau dari awal kalian tidak ingin mengajakku ke rumah Mira, lebih baik tidak usah sekalian!” ucapku dengan suara bergetar.
“Bukan begitu, dengar dulu—” kata Mira, tetapi aku tak ingin mendengarnya lagi.
Aku berbalik dan berjalan cepat masuk kembali ke lingkungan sekolah. Suara mereka memanggil namaku dari kejauhan, tapi langkahku tak berhenti. Untuk pertama kalinya, aku sadar… mungkin persahabatan kami selama ini hanya terlihat indah dari luar—padahal di dalamnya ada luka yang tak pernah mereka pedulikan.

