Hits: 34
Dicky Wahyudi
Pijar, Medan. Saat ini, fenomena tsunami informasi dan mudahnya akses ke konten digital membuat masyarakat seakan tidak bisa lepas dari ketergantungan konsumsi konten ringan secara berlebihan. Akibatnya, sering kali seseorang akhirnya merasa sulit fokus saat bekerja, atau mendadak kehilangan waktu karena terus berselancar di media sosial.
Hal ini bisa jadi pemicu dan tanda dari Brain Rot, akibat dari otak terus menerus memproduksi zat yang membuat bahagia (dopamin), serta rasa penasaran yang berulang akibat konsumsi konten receh yang berlebihan di media sosial.
Brain Rot sendiri dinobatkan oleh Oxford University Press sebagai kata terpopuler di tahun 2024 lalu. Lantas, apa itu Brain Rot? Oxford menjelaskan bahwa Brain Rot (pembusukan otak) merujuk pada penurunan kemampuan intelektual, dan kondisi mental seseorang akibat konsumsi berlebihan konten berkualitas rendah atau dangkal secara keberlanjutan.
Ketergantungan ini berdampak pada kualitas berpikir dan mental seseorang dalam mencerna informasi. Kecenderungan mengonsumsi video singkat membuat otak selalu penasaran dengan video apa yang selanjutnya akan didapatkan, ketika melanjutkan aktivitas scrolling media sosial tersebut.
Media sosial sering kali menjadi tempat menghabiskan waktu, kemudahan akses ini membuat kegiatan sosial secara nyata mulai terkikis. Contohnya saja, seseorang bisa berkumpul bersama temannya dengan tetap sibuk pada gawai masing-masing, daripada mengobrol satu sama lain.
Brain Rot sendiri sering melahirkan istilah-istilah baru yang populer di kalangan generasi muda. Seperti, Rizz yang berarti kemampuan menarik pasangan, Sigma dan Alpha yang menggambarkan orang mandiri dan dominan, Mewing atau teknik membentuk rahang menjadi tajam, dan ragam sebutan aneh lainnya.
Dilansir dari data terbaru statista.com, jumlah pengguna TikTok di Indonesia menjadi salah satu yang terbanyak di seluruh dunia. Data ini menjelaskan bahwa pengguna TikTok di Indonesia saat ini mencapai 157,6 juta pengguna, serta rata-rata screen time masyarakat yang melebihi tiga jam per harinya.
Berbagai masalah muncul akibat hal ini. Mulai dari hal sepele seperti lupa akan hal-hal kecil, lupa hendak berbicara apa, hingga rasa malas yang kian merasuki tubuh, mengakibatkan penurunan produktivitas seseorang.
Generasi muda yang diharapkan bisa menjadi sosok produktif, malah menjadi sosok yang ditahan oleh gawai mereka sendiri. Kesadaran untuk menjaga kualitas otak agar tetap kritis dan sehat adalah hal yang penting untuk dimiliki oleh setiap anak muda.
Hal lain yang penting diingat adalah menjaga batasan waktu penggunaan media. Batasan ini bukan melarang kita untuk mengikuti perkembangan zaman dan menggunakan teknologi, melainkan kita ditekankan untuk bisa menjadi pengguna media yang bijak dalam hal ini.
Banyak aktivitas yang dapat dilakukan agar kualitas otak menjadi lebih baik dan mencegah Brain Rot ini terjadi. Meningkatkan literasi dengan membaca buku, berdiskusi bersama teman, hingga mengonsumsi konten-konten yang memiliki nilai seperti siniar tentang topik tertentu, serta konten yang dapat membuat kita belajar atau menambah wawasan sebagai generasi muda adalah upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya Brain Rot.
Mari memilah tontonan di media sosial, dan jangan biarkan otak kita membusuk karena tidak bijak mengonsumsi konten yang nantinya dapat berakibat fatal untuk kualitas pikiran dan mental kita.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

