Hits: 20
Trisha Permata Lidwina Lumbangaol
Pijar, Medan. “Wah! kamu kurusan ya, jadi lebih enak dilihat.” Kalimat seperti ini terdengar seperti pujian, tetapi ada sesuatu yang terasa aneh. Ada lapisan halus yang membuat penerimanya bertanya dalam hati. Apakah ini benar-benar pujian, atau ada sesuatu yang sedang diselipkan. Ini adalah contoh klasik dari Backhanded Compliment. Sebuah komentar yang manis di awal, tetapi terasa getir di bagian akhirnya.
Fenomena ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja, lingkaran pertemanan, keluarga, bahkan di media sosial yang semakin ramai dengan opini spontan. Kita mungkin pernah mengalaminya, atau bahkan tanpa sengaja melakukannya.
Bentuknya bermacam-macam, ada yang mengatakan, “Kamu rapi juga ya sekarang,” dengan nada seolah tampilan lamamu tidak layak disebut rapi. Ada yang berkomentar, “Kamu lucu juga ya saat diajak berdiskusi, padahal biasanya pendiam,” yang membuat kita bingung apakah ini apresiasi, atau penilaian yang tidak diminta?
Backhanded Compliment bekerja dengan cara yang unik. Ia dimulai dengan pujian, tetapi diakhiri dengan sentuhan yang mengurangi nilai pujian itu sendiri. Banyak orang memberikan komentar seperti ini tanpa berniat jahat, awalnya mereka mengira sedang bercanda. Ada juga yang merasa komentar seperti ini terdengar jujur. Meski begitu, menurut penelitian komunikasi, jenis komentar ini sering membuat hubungan menjadi canggung. Penerimanya mungkin tersenyum, tetapi ada rasa tidak nyaman yang tertinggal.
Fenomena ini menarik karena bisa muncul dari siapa saja. Remaja yang sedang mencari pengakuan dari teman-temannya, rekan kerja yang ingin terlihat cerdas, teman lama yang muncul begitu saja di kolom komentar, bahkan orang tua bisa mengucapkannya dengan niat memotivasi, tetapi hasilnya justru membuat anak merasa direndahkan. Karena itu, dampak Backhanded Compliment tidak terbatas pada kelompok tertentu. Semua orang pernah berada di posisi menerima komentar yang memuji, sekaligus membuat ragu.
Media sosial memperluas ruang terjadinya fenomena ini. Di tengah ramainya jejaring, banyak orang merasa perlu memberikan pendapat yang terdengar kreatif atau lucu. Akhirnya, muncul ucapan-ucapan yang terlihat positif, tetapi sebenarnya memuat evaluasi yang tidak diminta. Contohnya seperti, “Di kamu model rambut itu cocok, kok. Di orang lain mungkin tidak.” Seolah olah ia memuji, tetapi sekaligus membuka pintu perbandingan. Hasilnya, penerima bisa merasa dihargai dan dinilai pada saat yang sama.
Mengenali Backhanded Compliment penting untuk menjaga kesehatan emosional. Salah satu cirinya adalah rasa ragu yang muncul setelah mendengar pujian tersebut. Bila sebuah pujian membuatmu merasa perlu mengulang kalimat itu dalam pikiran, ada kemungkinan pujian itu memiliki maksud tersembunyi.
Tanda lain adalah adanya perbandingan atau penilaian tentang versi dirimu yang lama. Misalnya komentar yang berbunyi, “Kamu lebih percaya diri dari biasanya”. Kalimat ini terdengar baik, tetapi tetap memberi catatan tentang masa lalu yang dianggap kurang baik.
Untuk menyikapinya, kamu bisa meredamnya dengan pertanyaan sederhana. “Maksud kamu apa, ya?” Pertanyaan ini tidak bersifat menyerang, tetapi cukup efektif membuat pemberi komentar menyadari bahwa ucapannya tidak sejelas yang ia kira. Kedua, kita bisa menanggapinya dengan candaan ringan. “Ini pujian atau cacian, sih?” Cara ini menjaga suasana tetap santai sembari memberi sinyal bahwa kita menangkap pesan tersembunyi dalam komentarnya.
Hal yang tidak kalah penting adalah belajar memberi pujian dengan tulus. Pujian yang baik tidak perlu diiringi tambahan penilaian. Tidak perlu membuka sejarah masa lalu seseorang dan tidak perlu membandingkan dengan orang lain. Cukup katakan, “Kamu melakukan pekerjaan yang baik.” atau “Kamu terlihat keren hari ini.” Pujian sederhana tanpa catatan mampu menciptakan hubungan yang lebih hangat.
Pada akhirnya, fenomena Backhanded Compliment adalah cermin dari cara kita berkomunikasi. Ia bisa muncul tanpa sengaja, tetapi bisa diperbaiki dengan kesadaran. Setiap orang berhak menerima apresiasi yang jelas tanpa lapisan komentar yang membuat ragu. Setiap orang juga mampu memperbaiki kebiasaan berbicara agar pujian benar-benar menjadi pujian.
Jika suatu hari kamu menerima kalimat yang terdengar ambigu, ingatlah bahwa kamu berhak mempertanyakan dan memilih untuk tidak menyimpannya dalam hati. Pujian seharusnya mengangkat, bukan membebani.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

