Hits: 24

Shafna Jonanda Soefit Pane

Bel kedatangan berbunyi nyaring, pertanda seseorang baru saja mendorong pintu kayu yang sudah tampak usang itu. Seorang pria masuk dengan langkah tergesa—seolah ingin segera tuntaskan tujuannya datang ke sana.

“Saya mau latte satu, ya.”

Di balik meja kasir, gadis itu tersenyum ramah, dan transaksi jual beli berjalan dengan lancar. Usai dengan pesanannya, pria itu langsung bergegas keluar—ucapan terima kasih pun diucapnya asal, dan hampir tidak terdengar. Namun, si gadis masih tetap pasang senyum di wajahnya.

Di hari berikutnya, pria itu datang lagi. Kali ini dengan pakaian yang lebih santai. Oh, dia tidak sendirian. Ada seorang gadis cantik yang kini tengah tertawa bersamanya. Di balik kasir, terjadi pergantian shift secara mendadak—tepat sebelum pria dan wanita tadi menyebutkan pesanan mereka.

“Totalnya tujuh puluh ribu.”

Di dapur, gadis penjaga kasir tersebut menunduk, mencengkeram kuat kain di tangannya sembari menggigit bibir dengan sama kencangnya. Air matanya perlahan turun, membasahi pipi putih yang terdapat sedikit bekas kemerahan di sana.

“Dia.. punya teman baru..”

“Aku bukan lagi teman satu-satunya, ya?”

“Maafkan aku..”

Seolah keadaan semakin ingin mencekamnya, memori indah bersama pria tersebut terputar bagai kaset rusak di kepalanya. Hanya sepenggal yang bisa ia ingat, dan rasanya kian menyakitkan. Padahal, ia mengira setidaknya bisa menyimpan memori tersebut di dalam kepala. Namun, semua kemampuan mengingatnya seolah hilang—tergantikan dengan rasa sakit yang ia tidak tahu apa.

“Hei, kamu baik-baik saja?”

“Ada seseorang yang mencarimu di depan.”

“Dia dokter.”

“Katakan padanya, aku sedang tidak ada.”

“Tapi aku sudah bilang kamu ada di sini—”

“Bilang saja bahwa aku sudah pulang dan kalian tidak ada yang tahu. Aku tidak ingin menemuinya.”

Aku melempar kain di tanganku tadi ke sembarang arah, kemudian membuka apron yang melilit pinggangku dan mulai membereskan barang. Pergerakanku tergesa, tanganku mulai bergetar. Tapi aku—baik-baik saja. Ya, aku pasti baik-baik saja.

Ku raih semua barangku, sampirkan tas ke bahu, gulung jaket di lengan, hingga tutupi setengah muka dengan topi. Melalui pintu belakang, aku keluar dengan langkah yang semakin lama semakin lebar—seolah aku tidak mau berada di sana.

“Dia milikku. Dia teman baikku.”

Leave a comment