Hits: 34

Ruth Syahputri Situmorang

Pijar, Medan. Menyeruput Bagi sebagian orang, keong sawah mungkin terdengar aneh untuk dimakan. Namun, bagi masyarakat Sunda dan beberapa daerah di Jawa Barat, keong sawah atau Tutut justru menjadi kuliner legendaris yang menggoda selera. Tutut adalah makanan yang sekarang sudah jarang dijumpai. Sekilas, bentuknya mungkin membuat sebagian orang ragu untuk mencicipinya, tetapi bagi sebagian masyarakat, Tutut adalah hidangan lezat yang membawa kenangan masa kecil ketika disantap sambil bercengkerama di sore hari selepas hujan.

Tutut dikenal dengan cara unik untuk menyantapnya, yaitu diseruput langsung dari cangkangnya, atau dicongkel dengan tusuk gigi kecil. Ada sensasi tersendiri saat berhasil mendapatkan daging keong kecil dari lubang mungil itu. Sederhana, tetapi memuaskan. Tutut juga memiliki tekstur yang mirip kerang, kenyal dan lembut saat digigit.

Tutut biasanya dimasak menggunakan bumbu pedas gurih khas Sunda dengan campuran serai, daun salam, cabai, dan terkadang ada juga yang menambahkan santan. Saat direbus, aroma rempahnya menyebar menggoda, menciptakan aroma gurih pedas yang khas. Rasanya gurih, sedikit manis, dan pedas. Paduan bumbu tradisional ini juga yang membuat Tutut menjadi jajanan favorit bagi sebagian orang. Tidak sedikit juga yang menikmatinya dengan nasi hangat atau lontong, membuat cita rasanya semakin lengkap.

Menariknya, dulu olahan Tutut sering dianggap sebagai makanan orang desa atau sesuatu yang “kurang berkelas”. Namun, zaman sudah berubah. Sekarang, banyak anak muda kota yang penasaran dan ingin mencoba Tutut karena unik dan autentik.

Selain rasanya yang menggugah selera, Tutut juga memiliki nilai gizi yang tinggi. Kandungan proteinnya cukup besar, sementara lemaknya rendah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Tutut mengandung zat besi dan kalsium yang baik untuk tubuh. Tidak heran jika banyak orang menganggap Tutut sebagai camilan sehat, meskipun cara pengolahannya tetap menentukan nilai gizinya. Bila dimasak terlalu lama atau dengan santan berlebih, tentu manfaatnya akan berkurang.

Proses mencari Tutut juga memiliki cerita tersendiri. Biasanya, anak-anak desa akan turun ke sawah atau selokan setelah hujan dan mencari keong-keong kecil yang menempel di lumpur. Aktivitas sederhana ini sering menjadi bagian dari masa kecil yang menyenangkan. Kini, dengan semakin sedikitnya sawah di sekitar kota, kegiatan mencari Tutut mulai jarang dilakukan. Meski begitu, tradisi ini masih bertahan sebagai cara menjaga melestarikan kebiasaan dan makanan lokal bagi sebagian warga desa.

Kini, beberapa daerah bahkan sudah mengembangkan budidaya Tutut untuk memastikan pasokannya tetap ada. Langkah ini menjadi bukti bahwa Tutut bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Indonesia yang layak dilestarikan. Bagi yang belum pernah mencoba, menikmati Tutut mungkin butuh sedikit keberanian. Namun, begitu mencicipinya, rasa gurih dan aroma rempahnya akan sulit dilupakan.

Tutut mengajarkan satu hal penting, kelezatan tidak selalu datang dari bahan mahal atau teknik rumit. Kadang, justru dari sesuatu yang tumbuh liar di lumpur, tersimpan cita rasa dan makna yang dalam. Jadi, jika suatu hari kamu menjumpai warung yang menjual Tutut rebus pedas, jangan ragu untuk mencoba! Siapa tahu, di balik satu suapan kecil dari Tutut, kamu menemukan kenangan masa lalu dan rasa bangga atas kekayaan kuliner Indonesia yang begitu luar biasa.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment