Hits: 49
Tamara Laisa Damanik / Kelly Kidman Salim
Pijar, Medan. Beberapa tahun terakhir, Universitas Sumatera Utara (USU) turut menerapkan metode pembelajaran yang berfokus pada mahasiswa. Metode ini mendorong mahasiswa untuk lebih aktif melalui presentasi dan diskusi berbasis Project-Based Learning (PBL). Di mana, dosen hanya berperan sebagai fasilitator, bukan lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu selama kelas berlangsung.
Namun, timbul beberapa masalah dari metode ini, salah satunya adalah mahasiswa yang mulai terlena dengan teknologi artificial intelligence (AI), serta mengerjakan sebagian besar tugas tanpa mencari dari sumber literatur ilmiah.
Puan Maharani, dosen Program Studi (Prodi) Sastra Inggris USU, mengatakan bahwa dirinya sangat menentang mahasiswa yang secara penuh menggunakan AI dalam mengerjakan tugas, serta akan selalu menindak perilaku tersebut di perkuliahan.
“Saya selalu mengingatkan mahasiswa untuk tidak mentah-mentah menggunakan AI. Saya juga selalu memberitahu mahasiswa yang ketahuan menggunakan AI untuk mengerjakan kembali tugasnya. Jika tidak, maka saya akan mengosongkan nilai mereka,” tegasnya.
Meski begitu, Puan juga mengaku bahwa kebiasaan mahasiswa dalam memanfaatkan AI secara berlebihan, dapat juga diakibatkan dari kelalaian dosen di kelas. Mahasiswa cenderung menganggap remeh dosen yang tidak tegas, sehingga mereka berani untuk presentasi di depan kelas dengan materi penuh hasil AI dan mengabaikan kelompok lain, apabila giliran mereka sudah selesai.
Dari sudut pandang lain, Anjani Damanik, seorang mahasiswa Prodi Ilmu Politik USU, menyampaikan pentingnya keseimbangan antarkedua pihak dalam penerapan metode PBL, khususnya presentasi di kelas.
“Selain mahasiswa yang mempresentasikan materi di depan, proses pembelajaran juga membutuhkan pengarahan dan penjelasan langsung dari dosen. Jadi, menurut saya keduanya harus dikombinasikan. Setelah mahasiswa presentasi, dosen menjelaskan kembali agar lebih bisa dipahami. Dengan begitu, mahasiswa juga akan menganggap serius ketika mengerjakan tugas,” ungkapnya.
Agar penerapan metode PBL di perguruan tinggi dapat berjalan efektif, Puan berharap agar para tenaga didik dapat lebih tegas sebagai fasilitator, dan tidak mempermalukan profesi mereka sebagai dosen. Begitu juga untuk mahasiswa agar dapat menghargai pendidikan yang mereka tempuh dengan tidak mencurangi proses mereka dengan bergantung pada AI, sehingga dapat lebih mengandalkan kemampuan diri sendiri.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

