Hits: 91

Arbiahtul Insani Lubis / Patrycia Gloryanne Pasaribu

Pijar, Medan. Cimpa merupakan kue yang disajikan masyarakat Karo di perayaan acara adat, seperti Merdang Merdem, pesta panen khas adat Karo, pernikahan, dan acara adat kematian. Selain itu, Cimpa biasanya menjadi buah tangan dalam pergaulan sebaya yang memiliki arti mempererat persahabatan dan kekeluargaan.

Cimpa memiliki rasa yang unik, berbahan dasar dari tepung ketan dan santan yang memberikan rasa gurih pada Cimpa, dan isian kelapa dengan campuran gula merah yang memberikan rasa manis. Cara membuatnya juga cukup mudah, hanya membutuhkan sedikit bahan dan mudah didapatkan.

Kue khas Karo ini sebenarnya tidak memiliki filosofi khusus, tetapi rasa dan cara pembuatannya memiliki ajaran hidup yang sangat berarti. Rasa manis pada Cimpa memberikan arti hidup untuk selalu bersukacita. Sedangkan, cara pembuatannya mengajarkan untuk berbagi kepada sesama. Bagi masyarakat Karo, Cimpa memiliki makna yang dalam, karena kue ini bisa mempererat tali persaudaraan.

Cimpa menjadi salah satu kue yang sarat makna budaya, khususnya bagi masyarakat Karo. Tidak hanya menawarkan cita rasa yang unik, kue ini juga hadir dalam berbagai jenis dan cara pembuatan yang berbeda. Masing-masing memiliki fungsi serta keunikan tersendiri dalam setiap acara adat Karo. Cimpa juga memiliki beberapa jenis yang berbeda sesuai cara membuatnya.

Jenis yang pertama adalah Cimpa Unung. Dalam pembuatan Cimpa Unung, tepung beras ketan merah atau putih dicampur dengan sedikit air. Lalu, adonan tepung beras ketan diisi dengan sedikit campuran kelapa dan gula merah, atau yang disebut dengan inti. Setelah diisi, adonan tersebut dibungkus dengan daun pisang. Selanjutnya, adonan dikukus selama 20-30 menit. Jenis Cimpa ini adalah yang paling lazim ditemukan dalam acara-acara adat Karo. Dalam acara Merdang Merdem, jenis Cimpa Unung adalah makanan utama yang harus disediakan.

Jenis kedua adalah Cimpa Tuang, karena semua bahan seperti beras ketan, sagu, telur, kelapa, dan gula merah dicampur menjadi satu adonan dalam proses pembuatannya. Setelah itu, adonan tersebut digoreng di atas panci yang sudah diolesi daging lemak sapi. Jenis Cimpa ini biasanya disediakan sebagai bekal atau oleh-oleh. Pembuatannya lebih mudah dan penyajiannya tidak serumit Cimpa Unung.

Jenis ketiga adalah Cimpa Matah. Pembuatan Cimpa Matah lebih mudah dan unik lagi. Dalam pembuatannya, beras ketan, kelapa, dan gula merah ditumbuk jadi satu. Hasilnya berbentuk bubuk dan disediakan di atas piring. Biasanya, jenis ini dimakan untuk acara harian saja.

Dengan ragam jenis dan proses pembuatannya, olahan Cimpa ini bukan hanya sekadar camilan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan identitas budaya masyarakat Karo yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Dengan kehadiran Cimpa di acara adat Karo, kue ini menjadi pengingat akan kekayaan tradisi yang patut dijaga dan dikenalkan lebih luas.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment