Hits: 33
Angel Charoline / Alfihza Putri
Pijar, Medan. Tanggal 29 September diperingati sebagai Hari Susut dan Sisa Pangan Internasional yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penanganan susut dan pemborosan pangan secara mendunia.
Menurut Cinta, mahasiswa Teknik Pangan Universitas Sumatera Utara (USU), banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa membuang makanan dapat merusak lingkungan.
“Banyak sekali masyarakat yang tidak menyadari bahwa setiap kali mereka membuang makanan, secara tidak langsung mereka turut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan pemborosan sumber daya alam,” ujarnya.
Kondisi limbah makanan di Indonesia sendiri memprihatinkan, laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP), menyebutkan bahwa Indonesia menghasilkan sampah makanan sekitar 14,73 juta ton per tahun, menjadikan Indonesia sebagai produsen sampah makanan terbesar di Asia Tenggara. Lonjakan sampah ini merupakan efek domino yang disebabkan oleh kelalaian masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan cara pengelolaan pangan yang efektif agar hal tersebut dapat dihindari. Seperti yang dilakukan oleh Aksata Pangan, salah satu bank makanan di Medan yang mengumpulkan, menyimpan, dan mendistribusikan makanan berlebih dari berbagai sumber, untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Fajar Pramudya, seorang sukarelawan Aksata Pangan, mengatakan terkait hal apa yang bisa kita lakukan untuk mengelola pangan.
“Kalau skala kecil, itu mulai dari kita sendiri. Kita harus tahu dulu perlu berapa banyak kapasitas konsumsi kita. Kalau memang sedikit, jangan pesan banyak-banyak, harus bijak dalam konsumsi,” ungkapnya.
Fajar juga menambahkan langkah sederhana seperti tidak langsung membuang sisa makanan, contohnya sisa nasi pada malam hari yang dapat terlebih dahulu dimasukkan ke kulkas untuk dihangatkan kembali di esok hari. Hal-hal kecil seperti ini dapat berdampak besar bagi lingkungan kita, apalagi jika masyarakat dan khususnya pemerintah, bijak dan peduli terhadap isu sisa pangan yang sedang terjadi.
Cinta dan Fajar sama-sama mengharapkan perhatian yang besar untuk isu susut dan sisa pangan ini, khususnya bagi generasi muda agar bisa meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengolah limbah makanan. Dengan memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk dibagikan ke teman, keluarga, bahkan lingkungan sekitar, agar kebijakan dalam mengelola pangan dapat diwariskan dan menjadi budaya kita secara turun-temurun.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

