Hits: 32

Ferdi Rakiven Sianturi / Cintya Novi Yanti

Pijar, Medan. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) 2025 menghadirkan nuansa yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. Mengusung tema “Legacia”, yang berarti sebuah pewaris atau warisan, kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa baru dalam mengenal budaya Nusantara.

Pada hari pertama, para mahasiswa baru (maba) disambut dengan penampilan tari Tor-tor sebagai pembuka rangkaian acara bernuansa budaya. Ketua panitia PKKMB 2025, Fiqra Al Khoir Simamora, menyampaikan bahwa tema “Legacia” dipilih dengan harapan agar para mahasiswa baru tidak hanya adaptif secara global, tetapi juga tetap mengenal kebudayaan di Nusantara, khususnya yang ada di Sumatera Utara.

Selain itu, logo kegiatan menampilkan Boraspati, simbol budaya Batak yang berbentuk cicak, dengan harapan agar mahasiswa baru memiliki semangat yang Tangguh, dan lentur dalam menghadapi perubahan seperti maknanya dalam etnis Batak.

“Alasan kami memilih delapan etnis yang ada di Sumatera Utara adalah karena kami mengingat bahwa delapan etnis ini memiliki ciri khas, dan sistematika budaya yang dapat diaplikasikan,” ujar Fiqra.

Keberagaman etnis tersebut juga tercermin dalam desain maskot resmi PKKMB 2025 bernama “Syka”, diambil dari kata pyscho yang mewakili mahasiswa Psikologi. Penampilan maskot ini memadukan unsur budaya-budaya di Sumatera Utara, seperti anting ciri khas Nias, pakaian ulos dan songket, serta lukisan pada wajah yang terinspirasi dari ukiran (gorga) Karo.

Selain dibuka dengan tarian Tor-tor pada hari pertama,  kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dilanjutkan dengan penyampaian materi yang relevan dan adaptif pada hari kedua, kemudian ditutup dengan penampilan dari 10 kelompok maba.

Nuansa kebudayaan yang dihadirkan dalam PKKMB Fakultas Psikologi tahun ini turut dirasakan langsung oleh Almira Nurul Andifa, maba Psikologi tahun 2025. Ia mengungkapkan antusiasme peserta ketika disambut dengan tari Tor-tor, dan melihat ruang pelaksanaan acara dihias dengan ornamen khas adat Batak dan Tionghoa, seperti lampion dan kain ulos, serta panggilan yang berlaku selama tiga hari PKKMB berlangsung.

“Legacia ini kan mengusung dua kebudayaan yang paling utama, yaitu Batak dan Tionghoa. Jadi, saat hari pertama, kami memanggil panitia dengan sebutan Kakak-Abang, hari kedua Koko-Cici, dan hari ini Ga’a dan Kak,” jelasnya.

Dengan berakhirnya PKKMB tahun 2025 ini, Fiqra berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan kampus, tetapi juga dapat membekali kemampuan para mahasiswa baru dalam beradaptasi cepat di lingkungam perkuliahan, dan menerapkan nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan PKKMB.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment