Hits: 61

Kompas USU

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu, Korps Mahasiswa Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (Kompas) Universitas Sumatera Utara (USU) sukses menyelenggarakan kegiatan aksi peduli lingkungan, dengan tema “Coastal Greenline Project: Mangrove Planting”. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari, yaitu pada 7–8 Juli 2025.

Di hari pertama, diisi dengan upacara pelepasan peserta untuk keberangkatan menuju Desa Pasar Rawa pada pukul 10.00 WIB. Sesampainya di desa, tim melakukan sesi diskusi bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama. Setelah itu, peserta melakukan sosiologi perdesaan, observasi sosial-ekologis, serta mengenali potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan keanekaragaman hayati yang ada di ekosistem mangrove.

Selanjutnya, di hari kedua, dilakukan penanaman mangrove bersama KTH Penghijauan Maju Bersama dan Masyarakat. Penanaman diadakan pada pagi hari karena menyesuaikan kondisi pasang surut air laut.

Kegiatan ini berfokus untuk melakukan penanaman seribu bibit mangrove di wilayah KTH Penghijauan Maju Bersama, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Wilayah tersebut dipilih karena merupakan kawasan ekosistem mangrove yang mengalami degradasi dan membutuhkan pemulihan.

Kolaborasi KOMPAS USU dan Mapala se-Sumut dalam Aksi Tanam 1000 Bibit Mangrove - www.mediapijar.com
Penanaman pohon mangrove
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi Robby Sinamo)

 

Aksi kegiatan ini bertujuan sebagai upaya pelestarian lingkungan melalui aksi tanam seribu bibit mangrove. Selain penanaman, peserta juga diajak untuk melakukan observasi sosial-ekologis dan mengenal potensi HHBK, serta keanekaragaman hayati yang ada di ekosistem mangrove. Berdasarkan hasil observasi tersebut, keberagaman satwa liar, seperti ular dan monyet masih dapat ditemukan di sekitar ekosistem mangrove.

Pelaksanaan kegiatan ini diinisiasi oleh Kompas USU, dengan mengundang beberapa organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di kawasan Sumatera Utara untuk terlibat secara langsung.

Beberapa organisasi Mapala yang terlibat, yaitu Mapala Universitas Negeri Medan (Unimed), Mahasiswa Pecinta Alam Gunung Rimba Tebing dan Satwa (Mapagratwa) Politeknik Negeri Medan (Polmed), Mapala Universitas Nias, Langkah Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan (Lampalin) Universitas Pembinaan Mayarakat Indonesia (UPMI), dan Generasi Muda Pecinta Alam (Gempala) Universitas Sains Cut Nyak Dien.

Silviculture Forestry Student Community (Silfosnity) USU yang merupakan Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan Prodi Kehutanan, beserta masyarakat Desa Pasar Rawa dan KTH Penghijauan Maju Bersama turut serta secara langsung dalam aksi peduli lingkungan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa tamu undangan, seperti Wakil Rektor I USU yang diwakilkan oleh Isyatun Mardhiyah Syahri selaku Sekretaris Direktur (Sekdir) Direktorat Prestasi Mahasiswa dan Hubungan Kealumnian (Ditmawalumni) USU, Zahedi selaku Anggota Luar Biasa Kompas USU, Rianda Purba selaku Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, dan Kusnadi selaku perwakilan Yayasan Ekosistem Lestari.

Raja Kuat Subbhari, selaku Ketua Umum Kompas USU, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar menanam mangrove. Namun, kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian seluruh peserta terhadap krisis lingkungan di pesisir Sumatera Utara, khususnya di ekosistem mangrove.

Selain itu, Rianda Purba, selaku Eksekutif Daerah Walhi Sumut, juga menyebutkan bahwa program ini hadir di tengah alih fungsi lahan besar-besaran untuk mengembalikan fungsi hutan.

Kegiatan ini didukung oleh beberapa lembaga, seperti Dana Nusantara, Walhi, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Indonesia memiliki lebih dari tiga juta hektar hutan mangrove, tetapi sebagian besar telah rusak. Adanya ekosistem mangrove dapat berperan penting dalam perlindungan pantai, penyediaan habitat biota laut, penyerapan karbon, dan menopang ekonomi pesisir. Oleh karena itu, mahasiswa pecinta alam berperan bukan hanya sebagai penjelajah alam, tetapi juga agen konservasi dan edukasi masyarakat untuk pelestarian berkelanjutan.

Leave a comment