Hits: 43
Aura Qathrunnada Gultom
Pijar, Medan. Jika kamu dihadapkan dalam suatu kondisi untuk bertahan hidup di sebuah kapal tenggelam di lautan, sehingga harus bertahan hidup selama beberapa hari di tengah lautan bebas, bagaimana kamu dapat melewati kondisi tersebut? Kondisi tersebut sudah pernah dihadapi oleh Walter, serta telah dituliskan dalam buku yang berjudul The Boat.
Seperti yang sudah dijelaskan, buku tersebut berdasarkan kisah nyata tentang pengalaman yang dialami si penulis, bernama Walter Gibson, berkisah tentang pengalaman Walter dalam bertahan hidup setelah Kapal Rooseboom yang dinaikinya, terkena torpedo dan tenggelam di Samudra Hindia. Selain Walter, terdapat para penumpang kapal beserta awaknya lainnya, sehingga mereka berjumlah 80 orang. Dalam kondisi tersebut, mereka harus bisa bertahan di sebuah sekoci yang seharusnya bermuatan 20 orang.
Sekoci yang mereka tumpangi mengapung di hamparan samudra luas selama 26 hari, dengan cadangan makanan dan minuman yang terbatas. Buku ini mengisahkan rangkaian konflik yang terjadi, mulai dari kapal yang ditumpangi terkena serangan hingga pada akhirnya beberapa orang yang bertahan sampai ke tepi daratan.
Berlatarkan perang dunia kedua, Kapal Rooseboom merupakan kapal milik Belanda yang dijadwalkan untuk berangkat pada Maret 1942 dari pelabuhan Padang menuju Ceylon atau sekarang disebut Sri Lanka. Di tengah perjalanan, kapal ini diserang oleh pasukan Jepang dengan torpedo.
Selama insiden tersebut terjadi, hanya satu sekoci yang dapat dinaiki untuk menyelamatkan para penumpang. Keadaan di sekoci sangat gaduh, kepanikan dan ketakutan muncul dari para penumpang yang berada di sekoci. Selain itu, para penumpang merasakan halusinasi karena mengalami dehidrasi. Di dalam sekoci, posisi mereka berhimpitan, sehingga beberapa dari mereka bergantian untuk mengapung di air laut, sambil bertahan memegang tali yang tersambung pada sekoci.
Selama 26 hari di tengah lautan, timbul berbagai masalah antara penumpang di sekoci. Mulai dari permasalahan pembagian ransum, pembunuhan, hingga peristiwa kanibalisme yang terjadi di daratan ketika sekoci yang mereka tumpangi berlabuh. Tidak berhenti disitu, buku ini juga mengisahkan rangkaian insiden yang terjadi setelah Walter ditemukan. Ia dikirim ke perkemahan tawanan perang yang ada di Medan selama dua tahun, hingga akhirnya ia dibebaskan di Singapura pada tahun 1945.
Buku ini menunjukkan bagaimana sifat buruk manusia muncul demi mempertahankan hidupnya. Beberapa penumpang merencanakan hal-hal jahat secara moral. Kedengkian dan keegoisan, timbul karena kondisi yang krisis dan menekan mereka untuk menyelamatkan diri masing-masing. Sedangkan, Walter mencoba untuk tetap bertahan tanpa merugikan penumpang lain.
Melalui sudut pandang Walter, ia menyampaikan bahwa hal yang membuatnya bertahan adalah tekad untuk tidak mati dengan sia-sia. Hal-hal yang ia rasakan bertolak belakang dari apa yang rekan-rekannya lakukan, seperti ketika sebagian rekan dan penumpang lainnya memilih untuk menyerah dan mati. Walaupun tidak dapat dipungkiri, Walter juga sempat berada di titik ketika ia ingin menyerah, tetapi pemikiran tersebut berhasil ia tepis dan kembali membangkitkan tekadnya untuk tetap hidup.
“Aku bertekad untuk tidak mati. Tidak pernah terlintas di benak bahwa keselamatan akan datang karena sekoci kami hanyut ke daratan. Tapi entah kenapa aku tidak pernah ragu bahwa kami akan diselamatkan. Jarang sekali keputusasaan singgah di benakku.” —halaman 47-48.
Selain menggambarkan sikap ketamakan, keegoisan, dan sifat-sifat lainnya yang terkesan negatif, kisah ini juga memberikan gambaran sikap empati, kasih sayang, dan perasaan senasib yang muncul antar manusia. Misalnya Mrs. Nunn, ia menjadi salah satu orang yang memperhatikan keadaan para penumpang yang berada di sekoci tersebut. Ia mengobati penumpang yang terluka, bercerita, serta memimpin doa selama sekoci tersebut mengapung bebas di lautan.
Perasaan senasib juga digambarkan dari tokoh Doris Lim, ia adalah penumpang yang selamat bersama Walter. Doris dijelaskan sebagai seseorang yang pendiam dan tenang. Selama berada di sekoci hingga sampai di daratan pedesaan Melayu, mereka melewati kejadian tersebut bersama-sama.
Dalam kisah ini, memiliki pesan agar setiap orang dapat bertindak sesuai pendiriannya serta tekadnya. Dalam keadaan yang krisis, penting untuk berusaha dalam mengambil keputusan yang tepat, walaupun harus melalui kondisi yang sulit dan butuh pengorbanan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

