Hits: 93

Ghina Raudhatul Jannah

Pijar, Medan. Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup sehat semakin menjadi perhatian, terutama di kalangan anak muda yang peduli dengan penampilan dan kesehatan. Salah satu pola hidup yang semakin populer adalah intermittent fasting atau puasa intermiten.

Meskipun terdengar seperti tren baru, sebenarnya metode ini sudah lama dikenal, bahkan sejak zaman kuno, tetapi baru belakangan ini intermittent fasting kembali menjadi sorotan berkat banyaknya influencer yang ramai membahas manfaatnya.

Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam siklus tertentu. Tidak seperti diet konvensional yang membatasi jenis makanan, intermittent fasting lebih fokus pada kapan seseorang makan dibandingkan dengan apa yang dimakannya. Ada beberapa jenis metode intermittent fasting yang umum, seperti pola 16:8, yaitu puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam; lalu pola 5:2, yaitu makan normal selama 5 hari dan membatasi kalori selama 2 hari; serta metode alternate day fasting, yaitu puasa selang-seling setiap hari.

Salah satu alasan intermittent fasting digemari adalah karena fleksibilitasnya. Banyak orang yang merasa bahwa metode ini lebih mudah diterapkan dibanding diet yang ketat lainnya. Selama jendela makan, pelaku intermittent fasting bebas memilih makanan sehat yang disukai tanpa perlu menghitung kalori secara obsesif. Bahkan, banyak yang mengaku merasa lebih fokus, bertenaga, dan tidak mudah lapar setelah menjalani intermittent fasting secara konsisten.

Secara ilmiah, intermittent fasting dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan. Menurut penelitian pada tahun 2024 oleh Fairuz, intermittent fasting dapat membantu menurunkan berat badan secara sehat, mengurangi kadar gula darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, ada pula studi yang menyebutkan bahwa intermittent fasting dapat membantu memperbaiki sistem metabolisme dan memperpanjang usia dengan cara menstimulasi proses autophagy, yaitu pembersihan sel-sel rusak dalam tubuh.

Namun, di balik popularitasnya, intermittent fasting tidak terhindar dari tantangan. Bagi sebagian orang, terutama pemula, menahan lapar dalam waktu yang cukup lama bisa menjadi hal yang berat. Selain itu, jika tidak diimbangi dengan pola makan yang sehat saat jendela makan, intermittent fasting bisa berdampak negatif seperti kekurangan nutrisi, sakit kepala, atau gangguan pencernaan.

Dokter gizi dan ahli kesehatan umumnya menyarankan agar intermittent fasting dilakukan dengan bijak, bertahap dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Tidak semua orang cocok dengan metode ini, terutama ibu hamil, individu dengan riwayat gangguan makan, atau individu yang sedang dalam kondisi medis tertentu. Konsultasi dengan ahli gizi sangat dianjurkan sebelum memulai intermittent fasting agar hasilnya optimal dan aman.

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, intermittent fasting tetap menjadi alternatif gaya hidup sehat yang menarik untuk dicoba. Kunci utamanya bukan hanya soal waktu makan, tetapi juga soal kesadaran menjaga kualitas makanan, istirahat cukup, dan olahraga teratur.

Intermittent fasting bukan merupakan solusi yang instan, tetapi dapat menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih sehat dan teratur. Metode ini tidak hanya mengajarkan kita untuk mengatur waktu makan, tetapi juga membentuk kesadaran akan pentingnya pola makan yang seimbang dan bertanggung jawab terhadap tubuh sendiri.

Jika dijalani dengan tepat, intermittent fasting bukan hanya membantu menjaga berat badan, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Lebih dari sekadar tren, intermittent fasting bisa menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment