Hits: 59

Alya Amanda

Pijar, Medan. “Kebencian tidak akan berakhir jika dibalas dengan kebencian. Kebencian hanya akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih.” — Dhammapada, ayat 5.

Kutipan dari kitab suci umat Buddha ini terasa relevan dalam perayaan Hari Raya Waisak ke-2569 Buddhist Era (BE) yang jatuh pada 12 Mei 2025. Di tengah masyarakat yang majemuk, semangat damai lintas iman menjadi pesan universal yang melampaui batas agama dan kepercayaan. Nilai-nilai ini turut dirasakan oleh umat Buddha maupun non-Buddha, khususnya dalam ruang-ruang pertemuan seperti lingkungan kampus yang beragam.

Dikutip dari detik.com, tema pada perayaan Waisak Nasional 2569 BE atau 2025 adalah “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Wujudkan Perdamaian Dunia”. Tema ini selaras dengan nilai-nilai yang dirayakan oleh Arryan Bramlie, mahasiswa penganut agama Buddha.

“Perayaan Waisak merupakan momen di mana umat Buddha merayakan dan merenungkan tiga peristiwa penting sekaligus, yang menurut saya cukup khas dan berbeda dengan perayaan besar Buddhis lainnya,” ujarnya.

Arryan menambahkan bahwa ia biasanya mengikuti puja bakti di vihara, meditasi, memandikan rupang sebagai bentuk penghormatan, hingga berdana kepada para Sangha dan sesama. Sejak aktif di organisasi kampus, ia juga turut merayakan Waisak bersama teman-temannya. Baginya, nilai Waisak seperti cinta kasih, kesadaran, dan memperbanyak kebajikan dapat dirasakan oleh siapa pun. Ia menekankan bahwa ajaran Buddha sejak awal mengajarkan hidup berdampingan secara damai tanpa memandang latar belakang.

“Mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk adalah hal yang selalu ditanamkan dalam ajaran agama Buddha, terlepas dari latar belakang agama, ras, atau keyakinan,” tuturnya.

Senada, Theresia, mahasiswa non-Buddha, mengungkapkan bahwa ia mengenal Waisak sebagai hari suci yang memperingati pencapaian Penerangan Sempurna dari Buddha Gautama. Menurutnya, perayaan Waisak memiliki makna refleksi diri, pengendalian diri, dan pencapaian kebijaksanaan.

“Bagi saya, makna perayaan Waisak adalah tentang refleksi diri, pengendalian diri, dan pencapaian kebijaksanaan. Perayaan ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya kasih sayang, welas asih, dan harmoni dalam kehidupan,” ucapnya.

Theresia juga menilai pentingnya memahami hari besar agama lain sebagai langkah awal hidup harmonis di tengah masyarakat multikultural.

“Itu penting agar kita tahu apa saja nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh agama lain, supaya kita dapat saling menghargai dan hidup harmonis di masyarakat multikultural ini,” ungkap Theresia.

Baik Arryan maupun Theresia, keduanya sepakat bahwa ruang dialog antariman perlu terus dihidupkan. Bagi mereka, toleransi bukan sekadar sikap pasif membiarkan, tetapi aktif mengenal dan menghargai.

Sebagaimana kutipan dalam Dhammapada 5, pesan damai Waisak ini menjadi ajakan bagi semua umat beragama untuk membangun kehidupan yang tidak hanya berdampingan dan saling menguatkan, tetapi juga untuk menyebarkan semangat damai dan toleransi lintas iman.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment