Hits: 62

Josephine

Pijar, Medan. Pernahkah kamu merasa ingin menangis seperti anak kecil di tengah realitas yang menuntutmu untuk selalu tersenyum layaknya orang dewasa? Dikomposeri dan ditulis oleh member SEVENTEEN, yaitu Woozi dan Scoups, “Kidult” merupakan b-side track dari mini album ke-7 SEVENTEEN, Heng:garæ, yang dirilis pada 22 Juni 2020. Lagu ini hadir sebagai pelukan hangat bagi siapa pun yang sedang berjuang menerima ketidaksempurnaan dalam proses menjadi dewasa.

Judul “Kidult” sendiri merupakan gabungan dari kata “kid” berarti anak-anak dan “adult” yang berarti orang dewasa. Lagu ini menggambarkan fase kehidupan di mana kita tidak lagi menjadi anak-anak. Namun, juga belum sepenuhnya merasa dewasa. Melodi sendu dan lirik puitisnya seolah menjadi suara hati yang jujur bahwa menjadi dewasa ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

“Mamsog-en eolin-aiga iss-eo” 

(Ada seorang anak di hatiku)

“Oneuldo eolyeoun haluya”

(Hari ini adalah hari yang berat lagi)

Tumbuh dewasa artinya menghadapi perubahan yang sering kali membingungkan dan melelahkan. Kita diharapkan mampu mengatasi segala tantangan hidup seperti orang dewasa padahal kenyataannya tidak semudah itu. SEVENTEEN mengakui betapa sulitnya hal tersebut melalui “Kidult”.

Belajar Menerima Ketidaksempurnaan di Usia Dewasa dalam Lagu “Kidult” www.mediapijar.com
Sesi diskusi di balik mini album “Heng:garæ”
(Sumber Foto: Youtube SEVENTEEN)

 

“Aku masih muda dan belum dewasa, tetapi jika dilihat dari usiaku, aku sudah dewasa. Namun, di dalam diriku, masih ada pikiran murni dan polos seperti anak kecil. Dan aku merasa seperti mengalami masa pertumbuhan,” ungkap Hoshi dalam sebuah konten “COMMENTARY of SVT LEADERS” yang ditayangkan di YouTube.

Senada dengan itu, Woozi juga menyinggung tentang ketegangan yang harus dihadapi saat harus berperilaku seperti orang dewasa, meski masih merasa seperti anak-anak. “Kidult” lahir dari pemahaman ketegangan tersebut, dan menawarkan pemahaman tersebut sebagai penghiburan.

“Daripada hanya menghibur para CARAT secara sepintas, kami ingin memberi mereka kenyamanan dengan membentuk konsensus dan benar-benar memahami mereka,” jelas Scoups lewat konten tersebut.

Terkadang, ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga dan tetap merasa gagal, yang paling dibutuhkan hanyalah mendengar bahwa kita baik-baik saja dan tidak sendirian. SEVENTEEN melalui “Kidult” mengingatkan bahwa masa transisi menuju kedewasaan adalah pengalaman bersama sebab semua orang pernah merasa kesepian dan tidak pasti.

“Gwaenchanh-a neoui sesang-eun”

(Tak apa duniamu ini)

“Jigeum-ui neo geudaelo”

(Sekarang tetaplah seperti dirimu)

“Sojunghago tto sojunghaeseo”

(Karena itu berharga)

Dari lirik tersebut, “Kidult” mengajarkan bahwa kita tidak perlu membuang sisi anak-anak dalam diri hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain atau diri kita sebagai orang dewasa. Ada keindahan dan ketulusan yang hanya dimiliki oleh anak kecil. Maka dari itu, mengakui kesedihan dan menangis bukanlah kelemahan, melainkan sebuah bentuk penerimaan diri.

Pasalnya, lagu “Kidult” menyebutkan bahwa ketidaksempurnaan, kesalahan, dan kegagalan adalah bagian normal dari proses pertumbuhan. Lagu ini tidak berusaha memberikan jawaban instan atau solusi mudah. Sebaliknya, ia menawarkan validasi atas perasaan-perasaan sulit yang mungkin kita alami.

Jadi, lagu “Kidult” adalah pengingat bahwa menjadi dewasa bukan soal kesempurnaan, melainkan proses yang penuh ketidakpastian, kecanggungan, dan kegagalan. Hal yang terpenting adalah kita dapat menerima diri sendiri, termasuk ketidaksempurnaan kita, dan terus berjuang menjadi lebih baik.

“Sumgyeojin uliui seulpeummajeo salanghaja”

(Mari cintai bahkan kesedihan kita yang tersembunyi)

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment