Hits: 134
Ayu Nabila Putri
Pijar, Medan. Language and Cultural Exchange (LCE) menyelenggarakan film festival yang dikemas dalam “LCE 1-Minute Film Festival” dengan mengangkat tema kesehatan mental. Acara ini sekaligus memperingati hari jadi LCE yang ke-16 dan berlokasi di CGV Focal Point. Acara berlangsung pada pukul 16.00 hingga 19.00 pada hari Jumat (25/4/2025).
LCE merupakan lembaga pendidikan nonformal berbasis komunitas yang berfokus membangun values seseorang dengan meningkatkan keterampilan bahasa Inggris dan soft skills melalui pertukaran budaya. Acara yang telah diselenggarakan pihak LCE dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari balita hingga orang tua, influencer, awak media, serta para pelajar yang terdaftar sebagai murid dari LCE.

(Fotografer: Ayu Nabila Putri)
Ike Tresiani Xie, selaku Chief Operating Officer (COO) LCE, mengungkapkan alasan dalam memilih kesehatan mental sebagai tema pada perayaan hari jadi LCE ke-16 tahun.
“Belakangan ini, banyak murid-murid yang curhat mengenai kesulitan, baik dalam lingkungan keluarga maupun sekolah. Sebelumnya, kami mengadakan counselling training untuk gurunya, kemudian konselor psikolognya menyarankan untuk membuat wadah ‘release’ bagi murid-murid. Karena kami juga sudah ada LCE Movie Award, maka digabungkanlah konsep membuat film dengan tema mental health,” jelasnya.
Adapun kumpulan film karya murid LCE, di antaranya Another Chance to Life, FOMO, Ask For Help, Fake, Shillhouted, Precious Self, Silent Battle, dan Someone’s Here to Listen. Kategori terpilih meliputi Shillhouted sebagai Best Cinematography dan Audience Choice, Vio sebagai Best Director, Hakim sebagai Best Actor, Vreslin sebagai Best Actress, dan Fake sebagai Best Film.
Vio, selaku peserta ajang festival film LCE, mengungkapkan kesulitannya dalam proses pembuatan film pendek.
“Because we have to delivered the message in such a short time and that’s the hardest part. I really want to make another film, maybe another themes,” ungkap Vio.
Pada penyelenggaraannya, LCE bekerja sama dengan pihak Yayasan Nurani Luhur Masyarakat (YNLM) Foundation yang merupakan organisasi nonprofit dan bergerak di bidang pengembangan masyarakat.

(Fotografer: Ayu Nabila Putri)
Jhon Philip Hutagulung, selaku CEO LCE, mengungkapkan harapannya mengenai keberlangsungan acara yang telah diselenggarakan.
“Harapannya, baik orang tua, kami sebagai sekolah lembaga informal, guru dan murid-murid bisa semakin memiliki kesadaran, bahwa mental health itu penting khususnya di zaman teknologi sekarang,” ungkap John.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

