Hits: 24

Reporter Pijar

Kania melangkahkan kaki keluar kelas dengan wajah murung, kepalanya tertunduk, dan tas merah yang ia bawa terasa lebih berat dari biasanya, meski hanya berisi buku pelajaran dan alat tulis. Hari ini bukanlah hari yang mudah bagi gadis tersebut. Rasanya semua hal menumpuk dan menekan dirinya dari segala sisi.

Pagi tadi, ia terlambat datang ke sekolah. Bukan salahnya sepenuhnya, angkot yang ia tumpangi mogok di tengah jalan. Namun, alasan tersebut tentunya tak mengubah kenyataan bahwa guru BK menghukumnya berdiri di tengah lapangan, sementara teman-temannya mencuri pandang sembari tertawa kecil di balik jendela kelas.

Atas keterlambatannya, Kania terpaksa menjalani ujian matematika susulan yang seharusnya dilaksanakan pada jam pelajaran pertama. Hal ini memperburuk situasi, angka-angka di soal kertas terasa melayang di kepalanya.

“Seharusnya  aku belajar lebih banyak tadi malam,” pikirnya. Tapi bagaimana mungkin? Ia baru menyelesaikan tugas kelompok hingga subuh. Lagi-lagi teman sekelompoknya mengabaikan kewajiban mereka dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada Kania seorang diri.

“Kania aja yang bikin, kan kamu yang paling bisa menggambar di antara kita,” ujar Raya, teman satu kelompoknya, dengan santai. Ucapan itu terdengar seperti pujian, tapi bagi Kania, itu hanya alasan untuk melimpahkan beban padanya.

Saat waktu istirahat, Kania mencoba untuk tenang. Ia berpikir mungkin bisa mengobrol dengan teman-temannya dan melupakan sejenak kegelisahan tadi pagi. Tapi begitu Kania mendekati mereka di kantin, ia mendengar sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.

“Emang Kania nggak capek ya? Kayak sok banget gitu, mau ngambil semua kerjaan buat diri sendiri,” bisik salah satu temannya.

“Biarin aja kali, nanti kalau dia nggak sanggup paling dia mengeluh ke kita lagi. Dasar pick me,” balas Raya, disusul tawa kecil dari sekelompok orang yang berada di sana.

Kania menggigit bibirnya, berbalik arah, dan meninggalkan kantin. Wajahnya memanas, dadanya sesak, seolah seluruh udara di paru-parunya menghilang. Air mata yang ia tahan selama meninggalkan kantin akhirnya lolos juga dan akhirnya membasahi pipi gadis tersebut. Ia tak mengerti, kenapa orang-orang tak pernah melihat usahanya dengan tulus?

Jam terakhir di sekolah adalah olahraga, tapi bahkan di sana, dunia seakan ingin mempermainkannya. Ketika bermain voli, bola yang ia servis justru memelesat jauh dari net, membuat timnya kalah. Bukannya mendapat dukungan dan ucapan semangat, Kania justru disudutkan dan disalahkan habis-habisan.

“Kamu  tuh yang fokus dong. Kalau nggak bisa main, bilang aja. Jangan jadi beban!” teriak salah satu teman satu timnya dengan nada jengkel.

Langkah Kania terasa berat saat meninggalkan gerbang sekolah. Ia merasa seperti seorang tahanan yang akhirnya dibebaskan, tetapi membawa luka yang tak terlihat. Biasanya, ia akan mampir ke alun-alun dekat sekolah untuk menenangkan pikiran, tapi hari ini ia terlalu lelah. Gadis itu lelah secara fisik maupun emosional.

Sesampainya di rumah, ia membuka pintu dengan perlahan dan tidak bersuara. Kania berharap tak ada yang memperhatikannya dan menanyakan alasan di balik mata bengkak itu. Namun, semerbak aroma hangat yang menguar dari dapur membuat langkahnya terhenti. Bau rempah bercampur wangi kaldu ayam menyapa indra penciumannya.

“Nak, kamu sudah pulang?” suara ibunya terdengar dari dapur.

Kania hanya mengangguk kecil. Ia melepas sepasang sepatu hitamnya dan berjalan menuju meja makan, di mana ibunya tengah menuangkan sup ke dalam mangkuk besar.

“Ini sup ayam kesukaan Kania. Begitu pulang dari kantor ibu langsung masak khusus buat kamu lho….” kata ibunya sambil tersenyum hangat.

Kania menatap semangkuk sup itu. Kuahnya bening, dengan potongan wortel berbentuk bunga, kentang dadu, irisan seledri, dan ayam yang tampak empuk. Aroma rempah yang lembut membuat perutnya tiba-tiba terasa lapar, meski sebelumnya ia tak selera makan sejak jam istirahat.

Tanpa berkata apa-apa, Kania mengambil sendok dan mencicipi kuahnya. Rasanya lembut dan hangat, seolah seluruh perasaan letih dan kesalnya berangsur-angsur memudar. Namun, justru di momen itu, air mata yang sebelumnya sudah menetes kini muncul lagi. Ia meletakkan sendok, menutupi wajahnya dengan telapak tangan, dan menangis tersedu-sedu.

Ibunya duduk di sampingnya, terkejut tapi tetap tenang. Ia mengusap bahu Kania yang masih bergetar hebat dengan lembut. “Kania, apa yang terjadi? Cerita sama ibu.”

Gadis itu menggeleng pelan, mencoba bicara meski suara tangisnya masih tedengar. “Aku  lelah, Bu. Di sekolah… semuanya terasa berat. Aku dihukum, tugasnya nggak adil, teman-teman ngomongin aku di belakang, dan… aku nggak tahu harus ngapain lagi.”

Ibunya memeluk Kania erat yang masih sesenggukan. Ia tidak banyak bicara dan hanya memberikan kehangatan yang tak mampu dideskripsikan dengan kata-kata. Setelah beberapa saat, Kania mulai merasa tenang.

“Nak, hidup terkadang tidak adil. Kadang orang tidak menghargai usahamu dan itu memanglah menyakitkan. Tapi yang kamu harus tahu, kamu sudah melakukan yang terbaik dan itu cukup bagi ibu. Istirahatlah… ibu ada di sini untuk kamu,” ucap ibunya.

Kania mengangguk pelan kemudian kembali menyendok supnya. Kali ini, setiap suapan terasa seperti pelukan. Sup itu bukanlah hanya makanan. Itu adalah bentuk cinta ibunya yang tulus, harapan yang diselipkan dalam setiap bumbu, dan kekuatan yang ia butuhkan untuk melangkah lagi di esok hari.

Di sore itu, Kania menyadari bahwa sesulit apa pun dunia luar, selalu ada rumah yang akan menjadi tempat ia pulang, dan selalu ada cinta yang menyambutnya di sana, bahkan dalam bentuk semangkuk sup ayam.

Leave a comment