Hits: 51
Kiki Nabila Tusu / Lainatus Syifa
Pijar, Medan. Kebanyakan mahasiswa berpikir bahwa dunia perkuliahan hanya tentang belajar dan mengerjakan tugas. Padahal, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menguasai materi akademik, tetapi juga berkesempatan luas untuk menambah pengalaman serta memperluas relasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berorganisasi.
Kesadaran akan banyaknya manfaat berorganisasi menimbulkan adanya dua klasifikasi tipe mahasiswa yang berbeda, ada yang memilih untuk fokus pada dunia perkuliahan saja dan ada yang memilih untuk bergabung dengan organisasi. Mereka yang berorganisasi beralasan bahwa mereka dapat memperluas relasi juga menambah pengalaman. Tidak hanya sampai di situ, bahkan dapat menerima keuntungan lain seperti ilmu, hingga sesuatu dalam bentuk materi dari luasnya jaringan yang kita peroleh.
Salah satunya adalah Heflin, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU). Ia mengungkapkan alasannya mengikuti lebih dari dua organisasi adalah karena banyaknya keuntungan yang diperolehnya.
“Saya kasih contoh, anak kedokteran pasti punya laboratorium, anak FMIPA punya laboratorium. Kita anak FISIP juga memiliki laboratorium, yaitu dunia sosial. Nah, yang mana salah satu cara untuk berkecimpung di dunia sosial itu sendiri adalah dengan mengikuti organisasi. Pastinya banyak benefit yang akan kita dapatkan, salah satunya memperoleh relasi yang bercabang. Jadi, relasi yang satu akan menghasilkan relasi-relasi lainnya,” ujar Heflin.
Mahasiswa yang berorganisasi seharusnya dapat memprioritaskan keduanya. Memutuskan ikut berorganisasi dan kuliah di saat yang bersamaan berarti siap dengan segala resikonya dan turut berpartisipasi adil terhadap keduanya. Namun, beberapa mahasiswa hanya fokus kepada salah satunya, sehingga membuat nilai akademik turun atau bahkan mengubah diri mereka menjadi overproductive.
Seperti yang dirasakan oleh Febi, mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan USU. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami penurunan nilai akademik, disebabkan sering menyepelekan tugas kuliah yang diberikan karena terlalu fokus pada organisasi yang ia ikuti.
“Iya, nilai akademik saya sempat turun dan saya sempat menjadi orang yang sepele dalam mengerjakan tugas. Bahkan saat itu saya merasa yang penting tugas ini selesai tanpa peduli bagaimana hasilnya. Saya seperti keteteran mengerjakan tugas keduanya di saat yang bersamaan. Hal itu memicu saya untuk memikirkan solusi seperti membuat tabel waktu dan alarm di handphone saya. Dengan itu, saya bisa lebih bijak dalam me-manage waktu saya dan dapat melihat mana yang lebih membutuhkan saya, sehingga itu yang saya prioritaskan,” ungkapnya.
Ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan dan pengalaman berorganisasi sama-sama penting, karena keduanya memiliki peran yang berharga. Keduanya membekali kita dengan pengetahuan serta pengalaman bermanfaat di masa depan. Oleh karena itu, kita perlu bijak dalam menentukan prioritas di antara keduanya sesuai dengan situasi yang dihadapi.
(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

