Hits: 34

Theodora Stephanie

Dahulu tak diwariskan cendekiawan,

sayang terbuang menunggu ranumnya bibir.

‘Aku pulang, cecintaku,’ seruan palsu,

gilamu tak sepadan, hambar di relung hati.

 

Tak lagi kumimpikan kerah lehermu,

menunggu setara membunuh, meratap sendiri.

Namun, dalam kecewa, tumbuhlah kekuatan,

buka pintu harapan, temukan kebahagiaan.

 

Hingga derai detik, sukma berpura lepas,

di atas pusara, merayu Tuhan ‘tuk mendekap.

Puas, kau pulas dalam pelukku,

sejuta kenangan, terukir di waktu.

 

Luka tersemat, dalam pelukan abadi,

sampai saat terakhir, kita bersatu kembali.

Di antara bayang-bayang kenangan,

hidup dan mati berdansa dalam rangkaian.

Leave a comment