Hits: 50

Raymond Putra Pratama Silalahi

“Malam semakin dingin. Suhu diluar akan membuatnya tidak berdaya,” ucap Kuri dengan wajah pucat. Dia telah kehilangan kucing kesayangannya. Ia kira kucingnya telah ikut pulang bersama mereka setelah mengambil kayu kering untuk dibakar pada malam hari.

Lubo adalah kucing jantan ras anggora. Bulunya sangat tebal, bewarna putih dengan sedikit bulu bewarna abu di atas kepalanya. Yang tidak kalah menarik adalah mata yang bewarna biru membuat siapa saja dapat dengan mudah jatuh cinta kepadanya.

“Dia akan baik-baik saja,” kata Ibu Delma. Ibu Delma adalah seorang dokter di kampung halaman Kuri. Kuri selalu belajar bersamanya tentang obat-obat dari kota yang berupa pil maupun cairan dan juga obat-obatan alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan.

“Ibu, aku sangat khawatir, bolehkah aku keluar sejenak mencarinya?” Kuri dengan wajah yang sangat panik langsung mengambil senter dan baju dinginnya.

Ibu Delma mencegahnya dengan menunjuk sebuah pengukur suhu yang menunjukkan suhu diluar berada di -20 °C. “Maafkan aku, tapi aku tidak ingin kau jatuh sakit,” Ibu Delma membujuknya.

“Ibu, kamu tahu seberapa berartinya Lubo bagiku, bukan? Aku tidak akan tidur malam ini jika dia tidak kembali,” Kuri mulai menangis dan menjatuhkan tubuhnya. Lututnya menahan tubuhnya dan air matanya mulai jatuh ke lantai.

Ibu Delma perlahan mendekati Kuri, mengangkat kepala Kuri dan tersenyum. “Kuri, kau adalah sahabat yang baik. Aku yakin kau akan membenciku jika sahabatmu kedinginan di luar sana. Aku akan membantumu.”

Kuri tersenyum dan langsung menggapai pintu rumah. “Aku siap!” ucap Kuri. Ibu Delma hanya tersenyum dan mengusap air mata Kuri yang tersisa.

Mereka mencari Lubo di setiap sudut rumah-rumah tetangga, di setiap toko-toko, bahkan mencari Lubo di setiap gundukan salju yang Kuri harapkan Lubo tidak membeku di dalam gundukan tersebut.

Setelah satu jam mencari dan tidak ada tanda dari Lubo, Kuri mulai menangis. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Sarung tangannya mulai basah, Ibu Delma pun semakin cemas akan Lubo dan juga Kuri yang semakin kedinginan.

Ibu Delma memeluk Kuri dan menjaganya tetap hangat, sedangkan Kuri menangis di pelukan Ibu Delma. “Aku tidak ingin kehilangannya. Lubo adalah sahabat terbaikku, aku tidak akan berhenti mencarinya, tetapi dengan keadaanku sekarang, aku tidak akan sanggup lagi, ibu,” ungkapnya sambil menangis.

Ibu Delma melihat tubuh Kuri mulai gemetar, tangannya memutih kedinginan, dan wajahnya mulai pucat. Kuri terus menangis dengan kuat hingga tetangga mereka mulai keluar dari rumah untuk memastikan apa yang terjadi di luar rumah mereka.

“Apa yang terjadi? Mengapa anak ini menangis di luar? Masuklah ke dalam dan hangatkan tubuh kalian,” kata kakek tua mendatangi mereka sambil memberikan sebuah tongkat untuk membantu Kuri yang sudah mulai kaku agar dapat berjalan masuk ke rumah kakek tersebut.

Sesampainya di dalam, kakek itu memberi secangkir coklat panas kepada Kuri dan Ibu Delma. Kakek tersebut meminta mereka untuk menceritakan apa yang terjadi sembari menghangatkan tubuh mereka di dekat perapian yang terbuat dari batu bata merah muda.

Kuri menceritakan segalanya tentang hilangnya Lubo dan juga ciri-ciri Lubo. Saat Kuri selesai bercerita, kakek tua itu melihat Kuri dengan tatapan yang menyeramkan. “Apakah kau benar-benar tidak akan berhenti mencarinya?” tanya kakek tersebut.

Kuri mulai menjawab dengan lantang dengan air mata yang tetap mengalir di pipinya “Tidak akan. Aku akan terus mencari Lubo, sampai aku benar-benar menemukannya.”

Kakek tersebut berdiri dari bangkunya. “Kucing bermata biru dengan sedikit bulu warna abu di atas kepalanya,” kata kakek tersebut mengulang perkataan Kuri saat memberi tahu ciri-ciri Lubo.

Kakek tua itu berjalan mendekati sebuah kotak coklat dan membawanya kepada Kuri. “Jaga dia, aku tau bahwa kau tidak sengaja meninggalkannya. Kau sahabat yang baik, nak,” kata kakek tua tersebut sambil memberikan kotak tersebut kepada Kuri.

Kuri melihat seekor kucing yang telah membuatnya jatuh cinta sejak lama dan telah menjadi sahabat Kuri. “LUBO!” teriak Kuri dengan penuh kegembiraan. Kuri mulai mengelus tubuh Lubo yang sedang terlelap sembari menangis kembali karena ia bersyukur bahwa Lubo selamat dari dinginnya malam.

“Dia sendirian di dalam rongga tumpukan kayu bakar. Saat aku mengambilnya, tubuhnya sudah lemas. Aku langsung memasukkannya ke dalam kotak ini dan menghangatkannya,” ucap kakek tersebut.

Kuri pun memeluk kakek tersebut dan mengucapkan terima kasih. “Terima kasih kakek dan Ibu Delma. Aku akan menjaga Lubo lebih dari sebelumnya, aku tidak akan kehilangannya lagi,” ucap Kuri dengan bahagia.

“Aku yakin kau akan menjaganya, pasti Lubo menganggap kamu adalah sahabat baiknya juga,” kata kakek sambil tersenyum kepada Kuri dan Ibu Delma. Mereka pun berpamitan untuk pulang dan membawa Lubo. Terpancar di wajah Kuri kebahagiaan di setiap pijakan kakinya di antara salju-salju yang mengendap di jalanan.

Leave a comment