Hits: 37

Shafna Jonanda Soefit Pane

Malam itu, seorang gadis dengan benda pipih dipangkuannya tengah mengetikkan sesuatu dengan serius. Matanya sesekali menyipit. Kedua tangannya menari dengan lembut di atas keyboard, menekan satu persatu huruf serta angka yang ada. Sesekali, sebelah tangannya mengangkat sebuah gelas untuk di arahkan ke mulutnya. Ia menyesap minuman yang baru saja dihantarkan sang Ibu beberapa menit yang lalu. Teh itu masih hangat dengan manis yang pas dan cocok di lidahnya.

Drrtt!

Getaran dari ponselnya mengalihkan eksistensi gadis itu. Diliriknya nama pemanggil sebelum menggeser tombol hijau sebagai tanda ia menerima panggilan tersebut.

“Halo?”

Kok balik-balik ga bilang, Na?”

Shelina namanya. Perempuan itu tertawa cukup kencang. Laptop yang semula ada di pangkuannya ia pindahkan ke atas meja. Ponsel tadi ia jepit di antara telinga dan bahunya, karena kedua tangannya sibuk merapikan benda-benda yang berantakan di sekitarnya.

“Emang kalau gue bilang bakalan disamper?”

Is that even a question?”

Lagi-lagi tawanya menguar. “Yaudah, nih ngabarin. Arga, gue pulang!”

Telat. Udah denger dari Ibu.”

Hanya hembusan nafas pertanda kesal yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Dirgantara, laki-laki yang dua bulan lebih tua darinya, sekaligus teman masa kecilnya. Kenalnya di mana? Klise, tembok rumah mereka berdempetan. Bahkan, balkon mereka hampir menempel rasanya.

Buka balkon lo.”

Ucapan itu terdengar seperti titah di telinga Shelina. Jemarinya menggeser gorden yang menghalangi pintu balkonnya, kemudian mendorong papan besi tersebut. Di sana, ada Arga yang dengan konyolnya berusaha melompat ke arah balkonnya yang kini sudah terbuka.

“Kalau Ayah lihat lo disangka maling,” ucap Shelina sembari menggelengkan kepalanya.

“Ayah kenal gue. Ga mungkin, lah!” balas Arga sembari mendudukkan diri di teras balkon tersebut. “Mau minum, dong.”

“Ngelunjak, ya.”

Meski dengan ocehan, Shelina tetap menurut. Tubuhnya ia bawa masuk, menuju dapur untuk mengambilkan segelas air serta beberapa cemilan untuk sobat kecilnya itu. Shelina hafal, Arga sangat menyukai cemilan ringan daripada makanan berat seperti nasi. Karena itu, ia membawa beberapa toples cookies serta jajanan yang ia beli di supermarket sore tadi untuk dihidangkan pada Arga.

“Nih, Tuan. Silakan,” Shelina berkata dengan nada meledek. Arga? Tentu saja, hanya mengeluarkan tawa.

“Terima kasih, Mbak.”

Balasan dari Arga mendapat tatapan sinis dari sang Gadis. Keduanya kini duduk berhadapan, dengan cemilan-cemilan tersebut sebagai batasan. Ada banyak hal yang mereka bicarakan. Tentang kehidupan Shelina di Bandung, perkuliahan Arga di Jakarta, kesibukan masing-masing setahun belakangan, dan banyak lagi.

“Kenapa, deh, lo jarang balik ke rumah? Perasaan, Bandung-Jakarta gak sejauh itu.”

Pertanyaan Arga membuat kedua sudut bibir Shelina terangkat. Ia hanya membalas dengan gelengan pelan, sembari meraih gitarnya yang sengaja ia keluarkan agar Arga dapat memainkannya.

Lemonade, Jeremy Passion.”

Alis kanan Arga terangkat, sedang tangannya menurut dengan meraih gitar dari tangan Shelina.

“Lo lagi jatuh cinta?”

“Biasa aja,” balas Shelina. “Kenapa jatuh cinta?”

“Lagunya.”

“Lagi suka aja, ga sengaja lewat di timeline YouTube kemarin.”

Hanya anggukan yang Arga beri sebagai balasan. Tangannya bersiap, memetik senar gitar dan memainkan chord lagu sesuai permintaan Shelina. Arga tahu benar lagu itu. Sudah ia hafal di luar kepala. Karena, lagu itu sering ia mainkan ketika ia jatuh cinta.

Jatuh cinta pada seseorang yang kini menjadi miliknya.

Namun, juga menjadi milik yang lainnya.

“Suara lo makin bagus, Na.”

Pujian dari Arga dihadiahi pukulan pada bahunya oleh Shelina. Salting, mendengar ucapan Arga ketika mereka baru saja menyelesaikan bait demi bait dari lagu Lemonade tadi.

“Gue curhat boleh, gak?” izin Arga. Gitar tadi ia pindahkan ke samping tubuhnya. Matanya yang semula berlari ke sana kemari, kini jatuh sempurna pada Shelina.

Shelina tahu. Shelina tahu Arga akan bicara apa.

Dalam hati, gadis itu menolak mentah-mentah. Otaknya ikut memberontak, memerintah mulutnya untuk mengatakan “tidak” pada Arga. Namun, seolah lisannya membantah, yang keluar dari kedua belah bibirnya hanyalah, “Cerita aja. Kenapa? Rana, ya?”

Suaranya bergetar. Nama itu cukup sensitif bagi dirinya sendiri. Nama seorang gadis yang tidak seharusnya ia benci. Tapi, dirinya seolah tidak bisa mengontrol hatinya sendiri. Rasa tidak suka, berubah menjadi benci yang besar—setelah tahu, bahwa kini Arga dan Rana resmi berpacaran.

Dengan status Rana yang sudah menjadi tunangan orang lain.

“Gue.. harus ngelepas Rana, ya, Na?”

Harus, Ga. Kata itu seolah tertahan di dalam kepala serta hatinya. Bibirnya benar-benar menolak segala perintah dari otaknya untuk bekerja. Maka, raganya yang bekerja. Kedua tangannya meraih tubuh besar Arga, untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Ia dekap erat Arga yang mulai menangis. Tangisan yang diiringi cerita-cerita menyakitkan tentang keduanya. Namun, yang tidak Arga tahu, ada gadis lain yang menangis. Gadis di hadapannya, menangisi dirinya sendiri, yang menyimpan perasaan ada orang yang hatinya ada di gadis lain.

“Arga.. lepas pelan-pelan, ya. Lo pasti bisa. Pasti—”

“Lo gak ngerti, Na. Lo gak ngerti.”

Aku ngerti, Ga.

“Gue sayangnya cuma sama Rana..”

Sayangnya aku juga cuma sama kamu, Dirgantara.

 

Januari, 2023.

“Shelina.. kenapa ga pernah bilang?”

“El.. kenapa kamu cuma diam?”

“Kenapa ga pernah ngomong, El?”

“El.. bangun.. aku juga sayang kamu..”

Kalimat demi kalimat keluar dari mulut Arga. Jiwanya seolah ikut pergi melayang entah ke mana. Di hadapannya, hanya ada tumpukan tanah yang kini sudah mengotori sebagian celananya. Air matanya sudah kering, tidak lagi mau keluar. Kepalanya menyandar pada papan, dengan tulisan nama yang tidak pernah ia duga akan ada di sana.

Shelina Azzahra

Lahir: Jakarta, 25 Januari 2003

Wafat: Bandung, 24 Januari 2023

Leave a comment