Hits: 109
Cindy Nathasya Silalahi
Pijar, Medan. Digyshow merupakan kegiatan berupa gelar wicara (talkshow) yang mengusung tema mengenai “Literasi Digital dan Pengembangan Diri” dan dilaksanakan di Ruang Teater Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara pada Senin (08/05/2023).
Dalam gelar wicara ini terdapat dua pemateri. Moulita, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi hadir sebagai pemateri pertama mengenai literasi digital dan Zefanya Sinuhaji, Duta Favorit Mahasiswa USU 2022 sebagai pemateri kedua mengenai pengembangan diri.
Di masa sekarang, perangkat digital sangat dibutuhkan mulai dari perangkat lunak (software) hingga perangkat keras (hardware). Perangkat tersebut berhubungan dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang, khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi.
Dikutip dari kominfo.go.id, dalam Siaran Pers Nomor 10/HM/KOMINFO/02/2023 bahwa indeks literasi digital mengalami peningkatan dengan nilai 3,54.
“Literasi digital merupakan sikap atau kemampuan seorang individu dalam menggunakan, mengakses yang kemudian sampai pada tahap menganalis, mengevaluasi, serta mampu menyeleksi berbagai informasi yang diterima. Bahkan, pada masa sekarang banyak orang yang sudah membuat informasi itu sendiri dengan menggunakan perangkat digital yang dimiliki,” ucap Moulita.

(Fotografer: Cindy Nathasya Silalahi)
Moulita juga menjelaskan terdapat empat indikator dalam literasi digital yang bisa menjadi panduan dalam era digital sekarang.
“Pertama, digital skills adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan, mengunggah, serta memilah informasi yang diterima. Kedua, digital ethics adalah etika seseorang dalam memberikan saran dan komentar serta menghargai privasi seseorang,” tuturnya.
“Ketiga adalah digital safety. Terkait dengan hal ini, kamu dapat dengan mencadangkan data, mampu membedakan e-mail spam dan e-mail yang benar karena berkaitan dengan virus yang diberikan serta dengan sesekali mengganti sandi akun media sosial untuk menjaga data pribadi. Kemudian, dengan menahan diri untuk tidak memberikan komentar yang berkaitan dengan suku, ras, dan agama termasuk ke dalam digital culture,” sambung Moulita.
Selain itu, Moulita mengungkapkan bahwa literasi digital ini sangat penting, baik itu secara normatif dan praktis.
“Seseorang memiliki hak, peran dan tanggung jawab dalam memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain dan dengan kemampuan literasi yang baik dapat menghasilkan suatu hal dengan keahlian yang dimiliki. Untuk itu, kesadaran dan kepedulian dalam penarapan literasi digital sangat diperlukan supaya dapat dengan bijak menggunakan dan mengakses informasi melalui teknologi yang ada,” ungkapnya.
Sabatini Theresia, salah satu partisipan mengucapkan bahwa ia tertarik mengikuti acara tersebut karena narasumber dan materi yang dibawakan.
“Acara tadi sangat bermanfaat dan memberikan ilmu yang bagus mengenai dunia literasi digital. Harapan saya semoga generasi saat ini semakin bijak dalam menggunakan media sosial dan membuat berbagai konten yang mendidik bukan hanya menghibur saja,” ucapnya.
(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

