Hits: 36

Martha Br Simanungkalit

Bagaimana rasanya hidup dalam dunia hening? Tanpa hubungan sosial, tanpa ada tutur kata yang terlontarkan pada sesama manusia? Tentu saja Talitha gadis yang saat ini masih duduk dibangku SMA sangat mengetahui bagaimana rasanya berada disituasi tersebut.

Litha, ya seperti itulah orang-orang disekeliling nya memanggil nya. Gadis cantik, dengan rambut hitam yang panjang terurai, tubuhnya yang mungil dan senyum yang sangat sulit dan jarang sekali terukir di wajahnya dan membuat dia kelihatan ingin menutup diri dari orang-orang di sekitarnya.

Hari ini adalah hari Minggu, seperti biasa di tempat ini sekarang ia berada, tempat yang sangat padat, tempat dimana orang berlarian kesana kemari untuk berlomba masuk kedalam kereta yang akan mereka naiki. Yap, benar sekali, saat ini Litha berada di salah satu stasiun kereta api yang tidak jauh dari rumah nya. Tempat dimana orang-orang akan melakukan perjalanannya dengan kereta api entah itu untuk sekedar jalan-jalan, atau ada juga orang yang ingin pulang menggunakan transportasi ini, atau bisa saja seperti Litha yang sangat berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Brakkkk… gadis mungil itu kini terduduk dilantai “Astaga…. Maaf nak, ibu tidak sengaja” ucap seorang ibu dengan tampilan tergesah-gesah yang baru saja menabrak Litha yang sedikit lagi mencapai bangku yang akan di dudukinya. Litha hanya mengangguk tanpa melontarkan satu kata pun pada orang yang sudah cukup berumur tersebut, karena merasa bersalah dan Litha yang tidak merespon permintaan maaf orang tersebut dengan sepatah katapun, akhirnya ibu tersebut berulang kali meminta maaf padanya.

Namun, Litha tetap saja hanya mengangguk berulang kali dan sedikit membungkukkan badannya. Kemudian, ia langsung menghindar dan pergi meninggalkan ibu tersebut karena merasa tidak nyaman di situasi itu. Dan tentu saja banyak orang yang memperhatikan kejadian tersebut, tidak sedikit juga dari mereka yang beranggapan gadis mungil itu sombong dan tidak memiliki etika yang baik pada orang tua.

Kini Litha duduk dibangku, seperti biasa ia hanya duduk sepanjang hari di stasiun ini tanpa memiliki tujuan untuk berpergian menggunakan kereta. Ia hanya duduk memperhatikan orang berlalu lalang, perhatian nya selalu tertuju pada suara yang dilontarkan orang-orang melalui mulut mereka. Ada sedikit rasa iri dalam hati Litha melihat orang disekitarnya dapat berbicara sebebas yang mereka mau. terkadang ia juga seakan tidak terima dengan keadaan nya.

“Permisi, dik numpang tanya kereta tujuan Malang sudah tiba belum ya?” tanya seorang Wanita yang sepertinya akan melancong, terlihat dari tas backpacker yang digendong dipundak nya. Litha sontak terdiam karena bingung harus berbuat apa, ia bingung bagaimana menanggapi sosok wanita yang tiba-tiba saja muncul dan bertanya disampingnya.

“Kamu tahu ga?” ucap wanita tersebut menyadarkan Litha yang terpaku bingung menjawabnya

“Anak zaman sekarang memang kurang banget etika nya ya, ya walaupun kamu engga tahu setidaknya ngomong juga” ketus wanita tersebut merasa kesal karena tidak direspon sedikitpun oleh Litha yang kini membuat mata Talitha gadis mungil itu berkaca-kaca.

Terkadang ia juga merasa malu dan seakan tidak terima dengan keadaannya sehingga ia menutup diri dan memilih untuk berpura-pura mengabaikan semuanya. Kemudian, Talitha mengambil secarik kertas dan pena dari ransel mungilnya untuk menuliskan sepenggal kalimat yang kemudian diberikan pada wanita tersebut.

“ MAAF SAYA TUNA WICARA KAK, SAYA BISU DAN TIDAK BISA BICARA, KERETA YANG KAKAK TANYAKAN TADI AKAN TIBA SEBENTAR LAGI, MEMANG SEBELUMNYA SUDAH DI INFOIN KERETA ITU SEDIKIT TERLAMBAT. SAYA PAMIT DULU, HATI-HATI DI JALAN KAK ” tulisnya dalam huruf kapital di secarik kertas itu.

Leave a comment