Hits: 148

Shafna Jonanda Soefit Pane / Suryani Agata Sitanggang

Pijar, Medan. Sebuah tulisan dari akun Twitter milik @ErsaTriWahyuni beberapa waktu silam memperoleh begitu banyak pro dan kontra. “Kalau habis sikat gigi jangan kumur pakai air,” tulis pemilik akun Twitter @ErsaTriWahyuni di akun Twitter pribadi miliknya. Di dalam utasan tersebut juga dijelaskan beberapa alasan mengapa hal tersebut dilarang untuk dilakukan. Hal itu justru memicu perdebatan dan protes dari beberapa pihak.

Terlebih lagi, pemilik akun tersebut bukanlah seorang dokter gigi atau memiliki latar belakang di bidang kesehatan. Ada beberapa orang yang hanya mengajukan protes tanpa mengoreksi atau memberikan solusi. Namun, tak sedikit pula yang mengoreksi dan membagikan ilmunya, baik sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi ataupun dari sumber-sumber lainnya. Lantas, apakah boleh kita berkumur-kumur setelah menggosok gigi?

Seperti yang sudah kita ketahui, menggosok gigi bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Sedari dini, kita sudah diajarkan bagaimana cara menggosok gigi dengan baik. Di zaman yang sudah semakin modern ini, sudah banyak juga yang membagikan tata cara menggosok gigi dengan benar di berbagai platform maupun situs media lainnya.

Di dalam pasta gigi yang kita gunakan terdapat banyak kandungan yang membantu membersihkan sekaligus menjaga kesehatan gigi. Salah satunya adalah zat fluoride yang bermanfaat untuk menutupi lubang di gigi sekaligus mencegah gigi berlubang. Zat ini sebaiknya menempel pada gigi dan bukannya dibasmi dengan cara dikumur-kumur berulang kali. Oleh karena itu, munculah perdebatan mengenai boleh atau tidaknya berkumur-kumur setelah menggosok gigi.

Saat kita berkumur, zat-zat fluoride yang seharusnya menempel pada gigi dapat luntur, dan jadi tidak bermanfaat bagi gigi. Dilansir dari klikdokter.com, kita tetap boleh berkumur-kumur dengan syarat, tidak terlalu keras. Pendapat lainnya juga disampaikan oleh Drg. Rosdiana Nurul Annisa, seorang dokter gigi dari Rumah Sakit Pelni, yang mengatakan melalui antaranews.com bahwa menurut penelitian, tidak ada bedanya saat kita berkumur-kumur ataupun tidak.

Dokter Rosdiana menganjurkan, untuk setidaknya berkumur-kumur sekali setelah menggosok gigi. Melalui media yang sama, Dewi Isroyati, seorang dokter gigi spesialis konservasi Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pasta gigi di Indonesia tidak semuanya mengandung fluoride. Oleh karena itu, kita tetap harus berkumur-kumur setelah selesai menggosok gigi. Ia juga menjelaskan, “yang lebih penting adalah waktu sikat gigi, teknik sikat gigi yang benar, dan kontrol ke dokter enam bulan sekali”.

Di dalam pasta gigi juga terdapat kandungan lain yang bernama sodium lauryl sulphate. Sodium lauryl sulphate atau SLS adalah deterjen dalam pasta gigi yang berfungsi untuk merontokkan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Zat ini pula yang menimbulkan busa saat kita menggosok gigi. Namun, menurut penelitian, kandungan deterjen yang terlalu banyak pada pasta gigi juga tidak baik untuk mulut. Hal ini dikarenakan deterjen yang berlebihan juga dapat membuat iritasi pada rongga mulut.

Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih teliti dan memilih pasta gigi yang mengandung sedikit deterjen. Selain untuk mencegah iritasi pada rongga mulut, hal ini juga kita lakukan agar tidak perlu terlalu keras dan lama dalam berkumur-kumur. Jika dirasa busa saat menggosok gigi cukup mengganggu maka cukup berkumur secara perlahan atau membilasnya saja.

Kemudian, untuk penggunaan cairan kumur non-alkohol dapat digunakan setelah menggosok gigi. Namun, frekuensi pemakaiannya hanya cukup sehari sekali saja. Dijelaskan pula di atas untuk kita rajin melakukan kontrol gigi ekurang-kuranngnya enam bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk mengecek apakah ada keluhan atau tidak pada gigi.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment