Hits: 59
Stella Regina Christy
Pijar, Medan. Saat ini, teknologi telah mengalami banyak sekali kemajuan yang canggih dan signifikan. Jika pada zaman dahulu orang-orang menggunakan surat, amplop, dan prangko untuk bertukar pesan, zaman sekarang hanya diperlukan email yang dapat ditulis dan dikirim kapan saja dan di mana saja kepada penerima pesan melalui perangkat elektronik.
Akhir-akhir ini media sosial seperti Tiktok, Twitter, dan Instagram sempat diramaikan dengan isu kegiatan menghapus email yang dikabarkan dapat mengurangi emisi karbon sehingga bisa membantu menyelamatkan bumi dari global warming. Namun, hal itu tidak benar adanya.
Menurut pakar sains data Universitas Airlangga (UNAIR) Muhammad Noor Fakhruzzaman, atau yang biasanya akrab disapa sebagai Ruzza, penggunaan energi listrik oleh server layanan email tidak akan berkurang secara signifikan hanya dengan menghapus email yang tidak berguna selama masih terdapat aktivitas pengiriman dan penerimaan email. Hal ini disebabkan oleh server yang digunakan penyedia layanan email akan terus berjalan selama masih terdapat aktivitas email.
“Walaupun kita hapus semua email kita, server akan terus berjalan dan mengonsumsi energi listrik yang mengeluarkan emisi karbon selama ada aktivitas surat menyurat para pengguna email,” ungkap Ruzza dalam wawancaranya bersama dengan UNAIR NEWS, Selasa (19/4/22).
Daripada penggunaan email, aktivitas di dunia maya jauh lebih banyak menghasilkan emisi karbon. Berselancar di media sosial dan mengadakan pertemuan secara daring membutuhkan energi yang lebih besar karena harus mentransmisikan data berupa foto dan video. Selain itu, server yang digunakan oleh berbagai platform media sosial dan pertemuan secara daring cenderung berada di luar negeri. Semakin jauh jarak di antara server dan pengguna, maka akan menimbulkan pengaruh terhadap semakin banyaknya daya yang dikonsumsi.
Ditambah lagi selama masa pandemi, aktivitas masyarakat di dunia digital meningkat secara drastis. Dikutip dari data yang telah diteliti Dewan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Nasional (WANTIKNAS), penggunaan media sosial seperti WhatsApp dan Instagram meningkat sebesar 40 persen, sama halnya dengan pembelajaran daring dan pertemuan penting yang diadakan secara daring akibat dilaksanakannya work from home.
“Pada dasarnya, internet adalah jaringan komputer yang saling terhubung, yang mana semakin jauh jarak pengguna juga akan membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk sampai pada server yang dituju,” ujar Ruzza yang juga merangkap sebagai dosen Teknologi Sains Data Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) di Universitas Airlangga (UNAIR).
Ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan bumi dari global warming. Salah satunya adalah demgan menggunakan perangkat elektronik secara bijak dan tidak berlebihan. Beralih ke perangkat elektronik dengan label Energy Star juga merupakan langkah yang tepat dalam menjalankan misi penyelamatan bumi.
Energy Star merupakan program yang dioperasikan bersama oleh Departemen Energi AS (DOE) dan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) dengan tujuan mengukur efisiensi energi dari suatu perangkat elektronik. Perangkat elektronik dengan label Energy Star menandakan bahwa perangkat tersebut telah lolos uji efisiensi energi sehingga dapat menghemat penggunaan energi listrik.
Selain itu, mempertimbangkan penggunaan sumber energi alternatif yang baik seperti tenaga solar, air, dan angin dalam kehidupan sehari-hari akan sangat membantu mengurangi jumlah emisi karbon yang beredar, contoh sederhananya adalah mengeringkan pakaian. Akan lebih baik jika pakaian dikeringkan dengan cara dijemur di luar rumah sehingga dapat terkena sinar matahari dan angin yang cukup, daripada harus menggunakan mesin pengering pakaian setiap kali selesai mencuci pakaian.
(Redaktur Tulisan: Tasya Azzahra)

