Hits: 21

Chairunnisa Asriani Lubis

“Padahal seharusnya kita adalah satu-satunya orang yang mengenal diri kita paling dalam. Harusnya hanya kita yang mengerti apa yang sebenarnya kita rasakan. Harusnya kita nggak didikte oleh orang-orang asing apa yang harus kita lakukan terhadap diri sendiri” – Hal 89

Pijar, Medan. Menjadi seorang influencer, content creator, YouTuber, selebgram, hingga penulis terkenal tampaknya menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Namun, pandangan itu ternyata tak selamanya sesuai dengan yang dibayangkan. Layaknya kehidupan, tidak semua berjalan dengan mulus.

Hal itulah yang dituangkan oleh Gita Savitri Devi dalam bukunya yang berjudul A Cup of Tea. Buku ini menceritakan suka duka kehidupan yang dialami oleh Gita sebagai seorang influencer di media sosial. Seperti pengalaman – pengalaman Gita saat travelling ke luar negeri sendirian, lalu bertemu banyak orang,  hingga menjadi sebuah kisah.

Dalam salah satu bagian buku ini, Gita menceritakan tentang keresahan dan rasa bencinya terhadap dunia maya. Meskipun ia adalah seseorang yang kerap bekerja dalam media sosial, tetapi rasa takutnya akan dunia maya tetap ada dan cukup besar. Hal ini lantaran ia pernah mengalami cyberbullying.

“Gue merasa akar dari kebahagiaan adalah rasa syukur dan jujur terhadap diri sendiri. Menerima diri dan keadaan yang kita punya sangat berperan penting untuk menumbuhkan ketentraman hati kita” – Hal 103

Pernah mendapatkan cyberbullying dari warganet, sempat membuat Gita merasa sangat down. Ia bahkan pernah mendatangi psikolog dengan harapan dapat menyembuhkan rasa sakit hati yang ia terima dari orang- orang yang mengenalnya hanya sebatas dunia maya. Namun, akhirnya ia sadar bahwa rasa syukur dan menerima diri sendiri adalah penyembuh yang sebenarnya.

Buku berjumlah 172 halaman ini dikemas dengan bahasa yang simple dan ringan. Pembaca akan merasa seperti membaca buku diary seseorang. Sang penulis seakan mengajak pembaca ikut merasakan cerita-cerita yang dituliskan dalam buku ini.

Selain itu, buku ini juga disajikan dengan potret foto-foto berbagai tempat di luar negeri. Foto-foto yang diambil oleh penulis saat ia berada di luar negeri. Pembaca tidak akan merasa bosan, bahkan dapat membuat pembacanya merasa ingin pergi ke luar negeri dan menikmati langsung udara disana.

Buku yang terbit tahun 2022 ini cukup banyak memberikan pesan-pesan kehidupan bagi yang membacanya. Mulai dari tentang perjuangan sekolah, pekerjaan, hingga bagaimana memahami lisan seseorang yang ternyata dapat lebih tajam dari sebuah pisau.

Untuk Anda yang ingin menambah pelajaran tentang hidup dan ingin menambah perspektif terhadap dunia maya dan dunia nyata, buku A Cup of Tea ini bisa menjadi rekomendasi untuk dibaca. Apalagi ditambah dengan secangkir teh yang sesuai dengan judulnya.

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment